Ayahku
Ibuku keren!
itulah kalimat pertama yang aku ucapkan dan tuliskan di dalam blog harian “sesuka hatiku untukku ceritakan”.
itulah kalimat pertama yang aku ucapkan dan tuliskan di dalam blog harian “sesuka hatiku untukku ceritakan”.
Malam ini, di tengah kebahagiaan
hariku seperti biasa aku merasa “sok kaya” dengan mengikuti program paket
telepon malam. TM ON kirim ke 89** maksudnya memang sengaja untuk berkomunikasi
dengan orangtuaku dan saudaraku (di Jogja dan di Rumah).
Awalnya untuk memberi kabar
tentang kronologi sepatu baru yang hari ini aku beli bersamaan dengan
kembaranku. Sepatu dengan harga yang relative lebih miring dari harga sepatu
pertama yang ternyata juaauuh banget miringnya. Hehe
Hari ini, aku dan saudara
kembarku kembali ke salah satu pusat perbelanjaan di dekat kampus dengan niat
menjenguk sepatu yang sudah 3 bulan lalu kami incar. Siapa tahu harganya terjun
jauh dari harga yang dulu sempat kami lihat (yang dulu membuat kami sukses
gagal beli karena kondisi kantong). Ternyata benar, harganya terjun bebas dari
harga yang dulu! Jingkrak-jingkrak dalam hati, telepon ibu bapak sama mbak
hehehe.
Tanya ke salah satu penjaga
sepatu, minta dicarikan nomer sepatu ukuran 38.
Toeng-toeng! Takdir gak sepihak
sama kita, aku dan kembaranku udah nunggu luamaaa buanget, mas nya masih
muter-muter nyari sepatu sesuai pesenan kita, setengah jam berlalu, tambah lima
menit lagi berlalu, tambah lima menit mas nya nyamperin kita sambil bilang “sepatunya
ketlingsut mbk, ini aja (sepatu yang
di pegang alias sepatu pajangan yang biasa di coba-coba) pasangannya dicari gak
ada”.
Kita sontak tatap-tatapan
(saling kode pengertian), “owalah, gak ada to? Dicari gak ketemu ternyata”. Yaudah
deh, mas gapapa. Besok lagi aja klo ada kesini lagi (insyaallah).
Niatan hati mau ganti sepatu
yang mau dibeli, tapi gak jadi karena kurang sreg sama warnanya. Akhirnya kita jalan ninggalin ma**ha**, trus
jalan ke gra**di*. Berhubung juga udah rada gelap, kita ninggalin gra**di*
setelah baca-baca sedikit buku dan jalan-jalan muterin rak buku.
Turun lewat escalator, nemu salah
satu toko sepatu lagi (B**a), “coba mbk Ian tengok ke sana sebentar, mungkin
ada sepatu yang cocok sama kita” hehe
Masuk dan ketemu! Sumpah harganya
miring abis, bahkan kita bisa hemat sampe Rp50.000/orang sepatunya mah kita
banget wes. Tumbas trus pulang, oyyeeeyyy!!!
*Telepon
Malam ini, aku tidak ingin
bercerita banyak dengan ayah dan ibuku. Sebab jika aku bercerita banyak seperti
biasanya, yang ada hanya semua keluhan-keluhan lelahku dengan kegiatan harian
yang biasa aku jalani di sini yang keluar. Itu tidak selalu menghasilkan
solusi.
Kuberikan jatah pada ayahku
untuk menceritakan tentang kegiatannya hari ini. Aku ingin mendengar banyak
cerita darinya. Awalnya beliau menceritakan tentang kancil, kemudian timun yang
hilang karena berlari (berlari akibat di lempar oleh seseorang), kemudian benda
yang memiliki kaki namun tidak berlari (kursi).
Ayahku tetap melanjutkan
ceritanya dan aku menyimak dengan seksama (aku sangat senang dengan cerita)
*benar-benar menyimak dan penasaran.
Ayah melanjutkan ceritanya,
dengan menanyakan “jika kamu melihat sesuatu, apa yang kamu lihat? Di akhirnya
atau di awal? Aku menjawab di akhir tapi juga melihat awal”.
Kemudian, berapa jumlah angka
yang sering digunakan? Aku jawab 10. Ayahku meminta untuk menyebutkannya. Aku spelling- kan 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9. Benar,
respon ayahku.
Selanjutnya ayahku menceritakan
tentang seringnya seseorang memarginalkan angka 0. Kebanyakan memang
beranggapan bahwa angka 0 itu tidak ada artinya. Akan tetapi coba dilogikakan,
jika kita memiliki uang Rp10.000,- jika tidak ada angka 0, angka berapa yang
kita peroleh? 1, cukup 1 dan seterusnya. Mungkin angka 0 akan tidak berguna
jika letaknya berada di belakang koma (,) tapi coba bayangkan jika di depan
koma. Artinya luar biasa dan bilangannya pun luar biasa.
Kesimpulan: angka 0 sangat berarti.
Cerita berlanjut pada kisah air (jernih),
saat kita melihat bangunan apa yang kita lihat? Bangungan jadi dengan segala
pernak-perniknya. Ingatkah kita bahwa bangunan terbangun dan berdiri juga
karena ada faktor air (jernih)? Mungkin saat kita melihat bangunan gedung beton
berdiri kokoh kita tidak pernah membayangkan atau bahkan lupa jika air (jernih)
juga berperan banyak di sana.
Semen yang di campur dengan
pasir sebagai bahan perekat bangunan itu selalu di campur dengan air (jernih). Air
(jernih) sangat berguna dan memberikan pengaruh yang besar.
Kesimpulan: air (jernih) à kecil yang berarti.
Kembali diingat, bangunan yang
berdiri kokoh itu tegak diatas apa? Fondasi.
Apakah fondasi itu tampak? Tidak.
Fondasi tidak tampak sebab tertutup tanah. Bagian manakah yang sering disanjung
banyak orang? Atas (bangunan tampak). Apakah fondasi melakukan protes dengan
bangunan tampak atas? Tidak.
Apa fungsi fondasi? Sebagai penyangga.
Bagaimana bangunan yang baik dapat berdiri kokoh? Dipengaruhi oleh fondasi yang
kuat.
Kesimpulan: fondasi merupakan bagian dari
bangunan yang tidak terlihat namun memberikan pengaruh yang sangat banyak dan
besar terhadap eksistensi bangunan yang biasa disanjung oleh banyak orang. Akan
tetapi fondasi tidak pernah melakukan protes. Jadilah seperti fondasi yang selalu
bisa mengikhlaskan dirinya demi manfaat yang dapat dirasakan dan diterima oleh
bagian lainnya
Saat kita melihat sesuatu,
ingatlah “jas merah” sebuah sejarah awal terbentuknya sesuatu. Hasil ditentukan
dengan proses yang tidak singkat.
Pesan Ayah: Targetlah hidup
dengan rambu-rambu dan segala aturan yang dapat menyampaikan dirimu pada
impian, ikhlaslah selalu demi apapun. Jadilah sesuatu yang bermanfaat meskipun
sedikit “tak apa”.
Jadilah seperti fondasi, jadilah
seperti air (jernih) jadilah seperti angka 0. Dengan menjadi seperti demikian,
kita akan terbimbing untuk selalu ikhlas berbagi tanpa mengharapkan sanjungan
dari orang-orang disekeliling kita yang melihatnya.
Jadilah seperti gula, jadilah
seperti garam yang ketika di campur dengan air (jernih) mereka tidak merubah
warnamu, melainkan memberikan rasa untukmu.
Nasihat ayah malam ini, Ayahku
ku super. Biarkan aku menjadi orang pertama yang menjadi fans mu Ayah. I love
you
*Hari ini pun Ayahku mendapatkan
kado spesial dari Ibu.
Ibuku sangat perhatian dengan
Ayah, kisah mereka membuatku selalu terenyuh. Hari ini ibu pergi ke Taluk
Kuantan, sebuah tempat yang kami menganggapnya sebagai kota. Meskipun keadaannya
tidak seramai kota-kota yang ada di Jawa. Kami menganggapnya kota sebab di Kota
Taluk Kuantan banyak sekali didapati perkantoran dan pasar serta toko-toko
kelontong dan apotek juga rumah sakit. Jika dibandingkan dengan kota-kota di
Jawa, Kota itu masih sepi dari keramaian, namun lebih lumayan ramai jika dibandingkan
dengan rumahku, di desa.
Ibuku mampir di toko tempat dulu
aku dan Ibu membeli sebuah hadiah bersejarah “Raket” untukku di toko Mekarsari
dekat lapangan Limono, Taluk Kuantan. Disana Ibu membelikan Ayah hadiah baju,
kata ayahku baju lebaran.
Kisah perjuangan Ibu dan Ayahku
selalu memberiku inspirasi, mungkin yang membuatku hingga sekarang selalu
menahan diri untuk membuang-buang uang atas perihal yang kurang penting dan
sering membuatku iba dan merasa “kasihan” dengan perjuangan orang lain yang
setiap harinya harus mendorong gerobak kayunya yang berisikan beberapa belas
tabung gas berwarna hijau dan satu buah bak yang berisikan minyak tanah dari
pagi bahkan hingga malam. Betapa tidak mudahnya mencari sesuap nasi.
Aku selalu bersyukur dengan
keadaan keluarga kami sekarang, dulu aku juga pernah merasakan susahnya hidup. Desa
kami dulu jauh dari modernitas, aku baru merasakan listrik dan lampu neon saat duduk
di bangku kelas empat SD, pun masih menggunakan diesel.
Sebelum ada diesel sendiri
dirumah, kami tidak pernah menonton siaran TV seperti sekarang. Dulu TV hanya
ada TVRI dan kami harus menggunakan bantuan AKI untuk menyalakannya. Saat itu
hanya satu sampai tiga rumah yang telah memiliki diesel dan TV dengan channel yang lumayan banyak, dan kami
(tetangga yang lain) harus menyambungkannya untuk rumah kita masing-masing demi
lampu penerang di rumah. Pun dengan batas maksimal jam 22.00 Wib, selanjutnya
kami harus menyalakan lampu “teplok” (lampu minyak) sebagai penerang rumah kami
hingga shubuh jam 06.00 Wib.
Dulu yang namanya mau menonton,
kami selalu antusias dengan adanya layar tancap (aku pernah nonton bareng
dengan masyarakat se-desa) luar biasa!
Klo tidak kami ngikut dengan
tetangga atau kerabat yang punya diesel sendiri dan TV dirumah. Bahkan kami
pernah menginap dirumahnya.
Sekarang Alhamdulillah udah
masuk PLN, yang dulunya PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel). Pun ada saat
aku udah kelas X dan posisinya ada di Jawa.
Alhamudulillah sekarang desaku
sudah mengalami kemajuan.











0 komentar:
Posting Komentar