Kamis, 07 Mei 2015

Ayahku, Ibuku, aku, dan Kampungku


Ayahku Ibuku keren!
itulah kalimat pertama yang aku ucapkan dan tuliskan di dalam blog harian “sesuka hatiku untukku ceritakan”.

Malam ini, di tengah kebahagiaan hariku seperti biasa aku merasa “sok kaya” dengan mengikuti program paket telepon malam. TM ON kirim ke 89** maksudnya memang sengaja untuk berkomunikasi dengan orangtuaku dan saudaraku (di Jogja dan di Rumah).

Awalnya untuk memberi kabar tentang kronologi sepatu baru yang hari ini aku beli bersamaan dengan kembaranku. Sepatu dengan harga yang relative lebih miring dari harga sepatu pertama yang ternyata juaauuh banget miringnya. Hehe

Hari ini, aku dan saudara kembarku kembali ke salah satu pusat perbelanjaan di dekat kampus dengan niat menjenguk sepatu yang sudah 3 bulan lalu kami incar. Siapa tahu harganya terjun jauh dari harga yang dulu sempat kami lihat (yang dulu membuat kami sukses gagal beli karena kondisi kantong). Ternyata benar, harganya terjun bebas dari harga yang dulu! Jingkrak-jingkrak dalam hati, telepon ibu bapak sama mbak hehehe.

Tanya ke salah satu penjaga sepatu, minta dicarikan nomer sepatu ukuran 38.

Toeng-toeng! Takdir gak sepihak sama kita, aku dan kembaranku udah nunggu luamaaa buanget, mas nya masih muter-muter nyari sepatu sesuai pesenan kita, setengah jam berlalu, tambah lima menit lagi berlalu, tambah lima menit mas nya nyamperin kita sambil bilang “sepatunya ketlingsut mbk, ini aja (sepatu yang di pegang alias sepatu pajangan yang biasa di coba-coba) pasangannya dicari gak ada”.

Kita sontak tatap-tatapan (saling kode pengertian), “owalah, gak ada to? Dicari gak ketemu ternyata”. Yaudah deh, mas gapapa. Besok lagi aja klo ada kesini lagi (insyaallah).

Niatan hati mau ganti sepatu yang mau dibeli, tapi gak jadi karena kurang sreg sama warnanya. Akhirnya kita jalan ninggalin ma**ha**, trus jalan ke gra**di*. Berhubung juga udah rada gelap, kita ninggalin gra**di* setelah baca-baca sedikit buku dan jalan-jalan muterin rak buku.

Turun lewat escalator, nemu salah satu toko sepatu lagi (B**a), “coba mbk Ian tengok ke sana sebentar, mungkin ada sepatu yang cocok sama kita” hehe

Masuk dan ketemu! Sumpah harganya miring abis, bahkan kita bisa hemat sampe Rp50.000/orang sepatunya mah kita banget wes. Tumbas trus pulang, oyyeeeyyy!!!

*Telepon

Malam ini, aku tidak ingin bercerita banyak dengan ayah dan ibuku. Sebab jika aku bercerita banyak seperti biasanya, yang ada hanya semua keluhan-keluhan lelahku dengan kegiatan harian yang biasa aku jalani di sini yang keluar. Itu tidak selalu menghasilkan solusi.

Kuberikan jatah pada ayahku untuk menceritakan tentang kegiatannya hari ini. Aku ingin mendengar banyak cerita darinya. Awalnya beliau menceritakan tentang kancil, kemudian timun yang hilang karena berlari (berlari akibat di lempar oleh seseorang), kemudian benda yang memiliki kaki namun tidak berlari (kursi).

Ayahku tetap melanjutkan ceritanya dan aku menyimak dengan seksama (aku sangat senang dengan cerita) *benar-benar menyimak dan penasaran.

Ayah melanjutkan ceritanya, dengan menanyakan “jika kamu melihat sesuatu, apa yang kamu lihat? Di akhirnya atau di awal? Aku menjawab di akhir tapi juga melihat awal”.

Kemudian, berapa jumlah angka yang sering digunakan? Aku jawab 10. Ayahku meminta untuk menyebutkannya. Aku spelling- kan 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9. Benar, respon ayahku.

Selanjutnya ayahku menceritakan tentang seringnya seseorang memarginalkan angka 0. Kebanyakan memang beranggapan bahwa angka 0 itu tidak ada artinya. Akan tetapi coba dilogikakan, jika kita memiliki uang Rp10.000,- jika tidak ada angka 0, angka berapa yang kita peroleh? 1, cukup 1 dan seterusnya. Mungkin angka 0 akan tidak berguna jika letaknya berada di belakang koma (,) tapi coba bayangkan jika di depan koma. Artinya luar biasa dan bilangannya pun luar biasa.

Kesimpulan: angka 0 sangat berarti.

Cerita berlanjut pada kisah air (jernih), saat kita melihat bangunan apa yang kita lihat? Bangungan jadi dengan segala pernak-perniknya. Ingatkah kita bahwa bangunan terbangun dan berdiri juga karena ada faktor air (jernih)? Mungkin saat kita melihat bangunan gedung beton berdiri kokoh kita tidak pernah membayangkan atau bahkan lupa jika air (jernih) juga berperan banyak di sana.

Semen yang di campur dengan pasir sebagai bahan perekat bangunan itu selalu di campur dengan air (jernih). Air (jernih) sangat berguna dan memberikan pengaruh yang besar.

Kesimpulan: air (jernih) à kecil yang berarti.

Kembali diingat, bangunan yang berdiri kokoh itu tegak diatas apa? Fondasi.

Apakah fondasi itu tampak? Tidak. Fondasi tidak tampak sebab tertutup tanah. Bagian manakah yang sering disanjung banyak orang? Atas (bangunan tampak). Apakah fondasi melakukan protes dengan bangunan tampak atas? Tidak.

Apa fungsi fondasi? Sebagai penyangga. Bagaimana bangunan yang baik dapat berdiri kokoh? Dipengaruhi oleh fondasi yang kuat.

Kesimpulan: fondasi merupakan bagian dari bangunan yang tidak terlihat namun memberikan pengaruh yang sangat banyak dan besar terhadap eksistensi bangunan yang biasa disanjung oleh banyak orang. Akan tetapi fondasi tidak pernah melakukan protes. Jadilah seperti fondasi yang selalu bisa mengikhlaskan dirinya demi manfaat yang dapat dirasakan dan diterima oleh bagian lainnya

Saat kita melihat sesuatu, ingatlah “jas merah” sebuah sejarah awal terbentuknya sesuatu. Hasil ditentukan dengan proses yang tidak singkat.

Pesan Ayah: Targetlah hidup dengan rambu-rambu dan segala aturan yang dapat menyampaikan dirimu pada impian, ikhlaslah selalu demi apapun. Jadilah sesuatu yang bermanfaat meskipun sedikit “tak apa”.

Jadilah seperti fondasi, jadilah seperti air (jernih) jadilah seperti angka 0. Dengan menjadi seperti demikian, kita akan terbimbing untuk selalu ikhlas berbagi tanpa mengharapkan sanjungan dari orang-orang disekeliling kita yang melihatnya.
 

 

 

 
SMAN Pintar Taluk Kuantan, Kelihatan cantik (bangunan selalu berfondasi)
 

Jadilah seperti gula, jadilah seperti garam yang ketika di campur dengan air (jernih) mereka tidak merubah warnamu, melainkan memberikan rasa untukmu.

Nasihat ayah malam ini, Ayahku ku super. Biarkan aku menjadi orang pertama yang menjadi fans mu Ayah. I love you

*Hari ini pun Ayahku mendapatkan kado spesial dari Ibu.

Ibuku sangat perhatian dengan Ayah, kisah mereka membuatku selalu terenyuh. Hari ini ibu pergi ke Taluk Kuantan, sebuah tempat yang kami menganggapnya sebagai kota. Meskipun keadaannya tidak seramai kota-kota yang ada di Jawa. Kami menganggapnya kota sebab di Kota Taluk Kuantan banyak sekali didapati perkantoran dan pasar serta toko-toko kelontong dan apotek juga rumah sakit. Jika dibandingkan dengan kota-kota di Jawa, Kota itu masih sepi dari keramaian, namun lebih lumayan ramai jika dibandingkan dengan rumahku, di desa.

Ibuku mampir di toko tempat dulu aku dan Ibu membeli sebuah hadiah bersejarah “Raket” untukku di toko Mekarsari dekat lapangan Limono, Taluk Kuantan. Disana Ibu membelikan Ayah hadiah baju, kata ayahku baju lebaran.

Kisah perjuangan Ibu dan Ayahku selalu memberiku inspirasi, mungkin yang membuatku hingga sekarang selalu menahan diri untuk membuang-buang uang atas perihal yang kurang penting dan sering membuatku iba dan merasa “kasihan” dengan perjuangan orang lain yang setiap harinya harus mendorong gerobak kayunya yang berisikan beberapa belas tabung gas berwarna hijau dan satu buah bak yang berisikan minyak tanah dari pagi bahkan hingga malam. Betapa tidak mudahnya mencari sesuap nasi.

Aku selalu bersyukur dengan keadaan keluarga kami sekarang, dulu aku juga pernah merasakan susahnya hidup. Desa kami dulu jauh dari modernitas, aku baru merasakan listrik dan lampu neon saat duduk di bangku kelas empat SD, pun masih menggunakan diesel.

Sebelum ada diesel sendiri dirumah, kami tidak pernah menonton siaran TV seperti sekarang. Dulu TV hanya ada TVRI dan kami harus menggunakan bantuan AKI untuk menyalakannya. Saat itu hanya satu sampai tiga rumah yang telah memiliki diesel dan TV dengan channel yang lumayan banyak, dan kami (tetangga yang lain) harus menyambungkannya untuk rumah kita masing-masing demi lampu penerang di rumah. Pun dengan batas maksimal jam 22.00 Wib, selanjutnya kami harus menyalakan lampu “teplok” (lampu minyak) sebagai penerang rumah kami hingga shubuh jam 06.00 Wib.

Panjul jadi spot nya

Zhafran

 

Sore Jogja dengan kolam UNY dan pelangiMu

Pagi Malang dengan kabel lisriknya

Pagi Jogja dengan rel kereta sahabat bolang

Pagi mentari di kosan mbk Pix
 
Siang rumah dengan bunga Ibu dan tiang juga kabel listriknya
 
 
 
Parabola buat sambungan channel TV di rumah
 
 
Calon rumah Zhafran dan keluarga di depan rumah
 
 
Keadaan Riau dari ketinggian (jarang ada pemukiman, mayoritas perkebunan kelapa sawit)
Dulu yang namanya mau menonton, kami selalu antusias dengan adanya layar tancap (aku pernah nonton bareng dengan masyarakat se-desa) luar biasa!

Klo tidak kami ngikut dengan tetangga atau kerabat yang punya diesel sendiri dan TV dirumah. Bahkan kami pernah menginap dirumahnya.

Sekarang Alhamdulillah udah masuk PLN, yang dulunya PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel). Pun ada saat aku udah kelas X dan posisinya ada di Jawa.

Alhamudulillah sekarang desaku sudah mengalami kemajuan.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar