Sabtu, 26 Oktober 2013

Motornya dateng!



Cerita dibulan ini diawali dengan ‘akhirnya, motornya  dikirim juga ke Malang’. Kesan pertama pas megang motor di sini adalah beda banget dengan pas megang motor di Jogja. Entah kenapa rasa-rasanya emang beda, menjadi lebih tenang aja intinya - sepert itu lah kira-kira.

Kaka mejeng pake motor

Pertama, makasih yaa buat mb Opix yang ternyata sudah rela untuk berpisah dengan tupu-tupunya yang udah beberapa tahun kebelakang kemaren dipake buat nemenin kerja, kuliah, sampai main-main. Hehe

Trus sekarang kembali memakai ‘Kebo’ hijaunya, mb Opix kereenn, makassiihh banget, mumumu hehe

Kedua, makasih buat sepeda kesayangan aku yang udah nemenin kuliah dengan kira-kira jangka waktunya satu tahun lebih tiga bulan ini. Meskipun sekarang udah ada motor, aku bakal tetep pake kamu kok sepeda, baik buat kuliah maupun buat main-main, tapi yang jaraknya lumayan deket aja yaaa?



Ber-Sepeda saat siang menjelang sore


Tanggal 21 sore motor dikirim pake kereta api dengan paket “Herona Express” dari stasiun Tugu Jogja, makasih yaa Herona udah bawa dan ngurusin motornya tanpa cacat dan bisa sampai ke Malang. Gak kayak pas sepedaku dulu waktu dikirim kesini pake paket yang beda, aku kecewa sama mereka soalnya sedel sepedaku sobek dikit, kan jadinya jelek trus klo hujan atau pas kena air nanti airnya meresap di busa sedel sepedanya, dan klo ditambal pake lakban jadinya malah jelek alias buruk rupa, trus kalo musti ganti sedel baru pasti harganya juga gak murah. – sudahlah, lupakan itu.

Intinya. Sekarang udah ada motor jadinya bisa lebih mudah kalo mau pergi dengan jarak yang cukup jauh, gak musti bingung pinjam kedaraan ke orang-orang yang ntar kalo terjadi apa-apa malah resikonya tinggi.

Tanggal 22 pagi, hari selasa motor udah sampai di Malang, sekitar pukul 8 pagi aku segera bergegas berangkat ke Stasiun menggunakan kendaraan umum – angkutan kota – dengan membawa uang kertas sebanyak 2000 rupiah serta uang receh 4500 rupiah, dan sebuah helm pinajaman berwarna merah yang di bagian belakang kepalanya ada tulisan SNI. Harap maklum kalo anak kosan itu malah lebih banyak tabungan dari uang receh dari pada uang kertas dan kebanyakan barangnya pinjam. Aku berdandan ala kadarnya, cukup simple, tidak membutuhkan waktu yang lama, dan menurutku cukup nyaman dan gak jauh-jauh dengan penampilaku saat bepergian seperti biasanya.

Perjalanan dari kosan ke jalan raya menghabiskan waktu kisaran 8-10 menit. Berbeda dengan perjalanan saat menggunakan kendaraan umum dari depan kampus menuju Stasiun Malang kota baru yang kira-kira selama 20-25 menit. Setibanya di stasiun, aku langsung menghampiri salah satu petugas yang sedang berjaga di samping pintu keluar, aku menanyakan dimana letak pengambilan paket barang, petugas itu menanyakan padaku mengenai jasa apa yang aku gunakan dan kapan paket tersebut dikirimkan. Setelah ku jawab pertanyaan bapak petugas, barulah dia menunjukkan kepadaku dimana tempat barang tersebut harus kuambil.

Namun, setelah aku sampai di tempat seharusnya aku mengambil barang – motor – petugas piket dari paket tersebut mengatakan bahwa motor ku masih dibongkar dari kereta karena pagi ini baru datang. Setelah kupahami maksud petugas tersebut aku menanyakan kira-kira kapan aku bisa mengambilnya, petugas tersebut menjawab ‘barang bisa diambill mungkin jam sepuluh’ akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kosan. Entah hal apa yang terjadi, yang jelas sedari kosan aku sudah merasakan hal ini akan terjadi – motor belum bisa diambil pagi ini karena baru datang, sehingga aku memutuskan untuk membawa uang lebih meskipun semuanya uang receh --, karena di dompetku tidak ada uang kecil, aku hanya memiliki satu-satunya uang merah (Merah yang apa ya?) hahahaha...

Setibanya di kos, aku sedikit mengulangi mata kuliah karena saat aku mencoba untuk mengecek RPKPS, ternyata di lembar pada pertemuan ke-7 adalah jadwal untuk melaksanakan kuis dan menonton film dokumenter dari Dosen. Sedikit shock sih, karena aku baru membukanya pagi ini sebelum berangkat ke Stasiun, tapi sudahlah, karena kemungkinan besar juga tidak akan terjadi karena bapaknya kemaren 2 kali tidak masuk untuk mengajar, satu kali karena beliau harus melakukan kegiatan Pengabdian Masyarakat dan yang kedua karena hari selasa minggu lalu bertepatan dengan hari raya Idul Adha (jadi libur nasional, deh).

Setelah mengulangi sedikit materi yang sudah diajarkan, sekitar pukul 8.30 kuputuskan untuk bersiap-siap berangkat kuliah, dari membersihkan diri hingga menyiapkan pakaian yang akan ku pakai, lagi-lagi aku gak ambil pusing apa lagi ribet, aku berangkat kuliah dan mengikuti kegiatan perkuliahan hanya dengan menggunakan jumper kebesaran, kerudung biasa, dan celana jeans biru muda.

Kukayuh sepedaku dengan kecepatan cukup kencang karena aku berangkat mepet waktu, sedangkan khusus untuk mata kuliah ini tidak ada tolerir waktu bagi setiap mahasiswa yang terlambat. Setibanya di kampus, tenyata ruang kelas masih di pakai dan aku bersama teman-teman yang lain terpaksa harus menunggu di kelas sebelah yang akan digunakan oleh mahasiswa baru dan di luar ruangan.

Setelah pergantian ruangan, akhirnya aku dan teman-teman masuk dan melakukan kegiatan perkuliahan normal 3 SKS, saat itu adalah presentasi kelompok dan sedikit penjelasan dari Dosen perihal Kedaulatan Negara dalam Organisasi Internasional - Untung gak jadi kuis. hehehe...

Setelah perkuliahan selesai, aku menyempatkan untuk menemani saudara kembarku untuk bertemu dengan Dosen pembimbing PKM yang sedang aku ikuti bersama dengan anggota yang lain. Namun, saat itu yang akan bertemu sekaligus konsultasi dengan Dosen hanya kami berdua. Tapi, akhirnya aku tidak ikut karena harus kembali ke Stasiun untuk mengambil motor, kutinggalkan saudaraku sendiri di lantai 6 gedung FISIP A.

Aku pulang kekosan bersamaan dengan gerimis perdana sebelum hujan deras di kota Malang, kuputuskan untuk menunggu hujan sedikit reda sehingga aku bisa jalan kaki menuju jalan raya untuk menunggu angkot ADL tujuan Stasiun tanpa basah-basahan.

Alhamdulillah, kali ini aku sudah bisa membawa sepeda motor sekaligus sebagai kendaraan pulangku menuju kos. Namun, disayangkan karena bensin setiap kendaraan yang dipaketkan selalu dikosongkan oleh petugas dengan alasan jika terdapat bahan bakar, akan menimbulkan kebakaran. Termasuk kendaraanku, tapi aku masih beruntung karena bensin motorku tidak terkuras habis, paling tidak aku masih bisa menjalakan kendaranku beberapa kilo meninggalkan stasiun tanpa harus mengisi ulang tangki bensin.

Tapi, ketika tangki bensin sudah tidak berisi, barulah aku harus bekerja dengan tenaga – mendorong sepeda motor, kira-kira satu kilo meter dengan didampingi gerimisnya hujan kota Malang – masih beruntung juga aku, karena selama perjalanan dari Stasiun aku tidak menemukan orang berjualan bensin, penjual eceran saja tidak ada apalagi POM Bensin, dan begitu aku melalui tanjakan barulah motorku berhenti bekerja, -- gentian aku deh yang kerja. Hehehe

Ku dorong sepeda motorku dengan sedikit berlari karena aku khawatir akan turun hujan yang lebat, bersamaan dengan waktu pulang siswa/i SMA sederajat dari sekolahnya, sampai-sampai ada seorang siswi yang menyemangatiku untuk mendorong sepeda motorku yang kehabisan bahan bakar.

Kira-kira tepat satu kilo perjalananku mendorong sepeda motor – sudah terjadi fatamorgama bensin yang juga dipengaruhi karena aku tidak memakai alat bantu penglihatan, barulah aku menjumpai seorang penjual yang menjajakan botol-botol yang tempat bensin, sayang, semuanya kosong tanpa isi. Aku sedikit menarik nafas panjang karena kecewa, ternyata bensinya sudah habis terjual sedangkan untuk menemui POM Bensin masih cukup jauh. 

Alhamdulillah, seorang teman dari penjual bensin itu menanyakan seberapa banyak bensin yang aku butuhkan, jika hanya satu liter – ada – akhirnya, kuputuskan untuk mengeluarkan uang 7000 demi membayar kelelahanku mendorong sepeda motor. Setelah tangki bensin motorku terisi barulah aku bisa menumpangi motorku dan kembali ke kosan – masih dengan gerimisnya Malang – namun, sebelum tiba di kosan pun aku masih memutuskan untuk membeli bensin lagi di POM bensin yang berhasil aku temukan. Bagiku hal ini adalah pengalaman yang istimewa, karena sebelumnya, aku belum pernah mendorong sepeda motor sambil berlari dan sampai sejauh ini. Meskipun selang satu hari kemudian kutemui bahwa bahu kiri atasku sedikit sakit akibat mendorong sepeda motor. Tetap saja, hal ini adalah pengalaman yang berharga dan special bagiku. 


Sampai saat ini pun meskipun sepeda motor sudah dikirimkan dari Jogja ke Malang, aku dan saudara kembarku tetep setia menggunakan sepeda kayuhku ketika bepergian, sepeda yang telah menjadi ssahabat sekaligus saksi bisu dalam setiap goresan petualangan hidup yang memesona ini. 


Thanks black pit! 


                                            Best regard,

                                            dinoltwins


0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar