Cerita dibulan ini
diawali dengan ‘akhirnya, motornya dikirim juga ke Malang’. Kesan pertama
pas megang motor di sini adalah beda banget dengan pas megang motor di Jogja. Entah
kenapa rasa-rasanya emang beda, menjadi lebih tenang aja intinya - sepert itu
lah kira-kira.
![]() |
| Kaka mejeng pake motor |
Pertama, makasih yaa
buat mb Opix yang ternyata sudah rela untuk berpisah dengan tupu-tupunya yang
udah beberapa tahun kebelakang kemaren dipake buat nemenin kerja, kuliah,
sampai main-main. Hehe
Trus sekarang kembali
memakai ‘Kebo’ hijaunya, mb Opix kereenn, makassiihh banget, mumumu hehe
Kedua, makasih buat
sepeda kesayangan aku yang udah nemenin kuliah dengan kira-kira jangka waktunya
satu tahun lebih tiga bulan ini. Meskipun sekarang udah ada motor, aku bakal
tetep pake kamu kok sepeda, baik buat kuliah maupun buat main-main, tapi yang
jaraknya lumayan deket aja yaaa?
![]() |
| Ber-Sepeda saat siang menjelang sore |
Tanggal 21 sore motor
dikirim pake kereta api dengan paket “Herona Express” dari stasiun Tugu Jogja,
makasih yaa Herona udah bawa dan ngurusin motornya tanpa cacat dan bisa sampai
ke Malang. Gak kayak pas sepedaku dulu waktu dikirim kesini pake paket yang
beda, aku kecewa sama mereka soalnya sedel sepedaku sobek dikit, kan jadinya
jelek trus klo hujan atau pas kena air nanti airnya meresap di busa sedel
sepedanya, dan klo ditambal pake lakban jadinya malah jelek alias buruk rupa,
trus kalo musti ganti sedel baru pasti harganya juga gak murah. – sudahlah,
lupakan itu.
Intinya. Sekarang udah
ada motor jadinya bisa lebih mudah kalo mau pergi dengan jarak yang cukup jauh,
gak musti bingung pinjam kedaraan ke orang-orang yang ntar kalo terjadi apa-apa
malah resikonya tinggi.
Tanggal 22 pagi, hari
selasa motor udah sampai di Malang, sekitar pukul 8 pagi aku segera bergegas
berangkat ke Stasiun menggunakan kendaraan umum – angkutan kota – dengan membawa
uang kertas sebanyak 2000 rupiah serta uang receh 4500 rupiah, dan sebuah helm
pinajaman berwarna merah yang di bagian belakang kepalanya ada tulisan SNI. Harap
maklum kalo anak kosan itu malah lebih banyak tabungan dari uang receh dari
pada uang kertas dan kebanyakan barangnya pinjam. Aku berdandan ala kadarnya,
cukup simple, tidak membutuhkan waktu yang lama, dan menurutku cukup nyaman dan
gak jauh-jauh dengan penampilaku saat bepergian seperti biasanya.
Perjalanan dari kosan
ke jalan raya menghabiskan waktu kisaran 8-10 menit. Berbeda dengan perjalanan
saat menggunakan kendaraan umum dari depan kampus menuju Stasiun Malang kota
baru yang kira-kira selama 20-25 menit. Setibanya di stasiun, aku langsung
menghampiri salah satu petugas yang sedang berjaga di samping pintu keluar, aku
menanyakan dimana letak pengambilan paket barang, petugas itu menanyakan padaku
mengenai jasa apa yang aku gunakan dan kapan paket tersebut dikirimkan. Setelah
ku jawab pertanyaan bapak petugas, barulah dia menunjukkan kepadaku dimana
tempat barang tersebut harus kuambil.
Namun, setelah aku
sampai di tempat seharusnya aku mengambil barang – motor – petugas piket dari
paket tersebut mengatakan bahwa motor ku masih dibongkar dari kereta karena
pagi ini baru datang. Setelah kupahami maksud petugas tersebut aku menanyakan
kira-kira kapan aku bisa mengambilnya, petugas tersebut menjawab ‘barang bisa
diambill mungkin jam sepuluh’ akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kosan. Entah
hal apa yang terjadi, yang jelas sedari kosan aku sudah merasakan hal ini akan
terjadi – motor belum bisa diambil pagi ini karena baru datang, sehingga aku
memutuskan untuk membawa uang lebih meskipun semuanya uang receh --, karena di
dompetku tidak ada uang kecil, aku hanya memiliki satu-satunya uang merah (Merah yang apa ya?) hahahaha...
Setibanya di kos, aku
sedikit mengulangi mata kuliah karena saat aku mencoba untuk mengecek RPKPS,
ternyata di lembar pada pertemuan ke-7 adalah jadwal untuk melaksanakan kuis
dan menonton film dokumenter dari Dosen. Sedikit shock sih, karena aku baru
membukanya pagi ini sebelum berangkat ke Stasiun, tapi sudahlah, karena
kemungkinan besar juga tidak akan terjadi karena bapaknya kemaren 2 kali tidak
masuk untuk mengajar, satu kali karena beliau harus melakukan kegiatan
Pengabdian Masyarakat dan yang kedua karena hari selasa minggu lalu bertepatan
dengan hari raya Idul Adha (jadi libur nasional, deh).
Setelah mengulangi
sedikit materi yang sudah diajarkan, sekitar pukul 8.30 kuputuskan untuk
bersiap-siap berangkat kuliah, dari membersihkan diri hingga menyiapkan pakaian
yang akan ku pakai, lagi-lagi aku gak ambil pusing apa lagi ribet, aku
berangkat kuliah dan mengikuti kegiatan perkuliahan hanya dengan menggunakan
jumper kebesaran, kerudung biasa, dan celana jeans biru muda.
Kukayuh sepedaku
dengan kecepatan cukup kencang karena aku berangkat mepet waktu, sedangkan
khusus untuk mata kuliah ini tidak ada tolerir waktu bagi setiap mahasiswa yang
terlambat. Setibanya di kampus, tenyata ruang kelas masih di pakai dan aku
bersama teman-teman yang lain terpaksa harus menunggu di kelas sebelah yang
akan digunakan oleh mahasiswa baru dan di luar ruangan.
Setelah pergantian
ruangan, akhirnya aku dan teman-teman masuk dan melakukan kegiatan perkuliahan
normal 3 SKS, saat itu adalah presentasi kelompok dan sedikit penjelasan dari
Dosen perihal Kedaulatan Negara dalam Organisasi Internasional - Untung gak jadi kuis. hehehe...
Setelah perkuliahan
selesai, aku menyempatkan untuk menemani saudara kembarku untuk bertemu dengan
Dosen pembimbing PKM yang sedang aku ikuti bersama dengan anggota yang lain. Namun,
saat itu yang akan bertemu sekaligus konsultasi dengan Dosen hanya kami berdua.
Tapi, akhirnya aku tidak ikut karena harus kembali ke Stasiun untuk mengambil
motor, kutinggalkan saudaraku sendiri di lantai 6 gedung FISIP A.
Aku pulang kekosan
bersamaan dengan gerimis perdana sebelum hujan deras di kota Malang, kuputuskan
untuk menunggu hujan sedikit reda sehingga aku bisa jalan kaki menuju jalan
raya untuk menunggu angkot ADL tujuan Stasiun tanpa basah-basahan.
Alhamdulillah, kali
ini aku sudah bisa membawa sepeda motor sekaligus sebagai kendaraan pulangku
menuju kos. Namun, disayangkan karena bensin setiap kendaraan yang dipaketkan
selalu dikosongkan oleh petugas dengan alasan jika terdapat bahan bakar, akan menimbulkan
kebakaran. Termasuk kendaraanku, tapi aku masih beruntung karena bensin motorku
tidak terkuras habis, paling tidak aku masih bisa menjalakan kendaranku
beberapa kilo meninggalkan stasiun tanpa harus mengisi ulang tangki bensin.
Tapi, ketika tangki
bensin sudah tidak berisi, barulah aku harus bekerja dengan tenaga – mendorong sepeda
motor, kira-kira satu kilo meter dengan didampingi gerimisnya hujan kota Malang
– masih beruntung juga aku, karena selama perjalanan dari Stasiun aku tidak
menemukan orang berjualan bensin, penjual eceran saja tidak ada apalagi POM
Bensin, dan begitu aku melalui tanjakan barulah motorku berhenti bekerja, -- gentian
aku deh yang kerja. Hehehe
Ku dorong sepeda
motorku dengan sedikit berlari karena aku khawatir akan turun hujan yang lebat,
bersamaan dengan waktu pulang siswa/i SMA sederajat dari sekolahnya,
sampai-sampai ada seorang siswi yang menyemangatiku untuk mendorong sepeda
motorku yang kehabisan bahan bakar.
Kira-kira tepat satu
kilo perjalananku mendorong sepeda motor – sudah terjadi fatamorgama bensin
yang juga dipengaruhi karena aku tidak memakai alat bantu penglihatan, barulah
aku menjumpai seorang penjual yang menjajakan botol-botol yang tempat bensin,
sayang, semuanya kosong tanpa isi. Aku sedikit menarik nafas panjang karena
kecewa, ternyata bensinya sudah habis terjual sedangkan untuk menemui POM
Bensin masih cukup jauh.
Alhamdulillah, seorang teman dari penjual bensin itu menanyakan seberapa banyak bensin yang aku butuhkan, jika hanya satu liter – ada – akhirnya, kuputuskan untuk mengeluarkan uang 7000 demi membayar kelelahanku mendorong sepeda motor. Setelah tangki bensin motorku terisi barulah aku bisa menumpangi motorku dan kembali ke kosan – masih dengan gerimisnya Malang – namun, sebelum tiba di kosan pun aku masih memutuskan untuk membeli bensin lagi di POM bensin yang berhasil aku temukan. Bagiku hal ini adalah pengalaman yang istimewa, karena sebelumnya, aku belum pernah mendorong sepeda motor sambil berlari dan sampai sejauh ini. Meskipun selang satu hari kemudian kutemui bahwa bahu kiri atasku sedikit sakit akibat mendorong sepeda motor. Tetap saja, hal ini adalah pengalaman yang berharga dan special bagiku.
Sampai saat ini pun meskipun sepeda motor sudah dikirimkan dari Jogja ke Malang, aku dan saudara kembarku tetep setia menggunakan sepeda kayuhku ketika bepergian, sepeda yang telah menjadi ssahabat sekaligus saksi bisu dalam setiap goresan petualangan hidup yang memesona ini.
Thanks black pit!
Best regard,
dinoltwins
Alhamdulillah, seorang teman dari penjual bensin itu menanyakan seberapa banyak bensin yang aku butuhkan, jika hanya satu liter – ada – akhirnya, kuputuskan untuk mengeluarkan uang 7000 demi membayar kelelahanku mendorong sepeda motor. Setelah tangki bensin motorku terisi barulah aku bisa menumpangi motorku dan kembali ke kosan – masih dengan gerimisnya Malang – namun, sebelum tiba di kosan pun aku masih memutuskan untuk membeli bensin lagi di POM bensin yang berhasil aku temukan. Bagiku hal ini adalah pengalaman yang istimewa, karena sebelumnya, aku belum pernah mendorong sepeda motor sambil berlari dan sampai sejauh ini. Meskipun selang satu hari kemudian kutemui bahwa bahu kiri atasku sedikit sakit akibat mendorong sepeda motor. Tetap saja, hal ini adalah pengalaman yang berharga dan special bagiku.
Sampai saat ini pun meskipun sepeda motor sudah dikirimkan dari Jogja ke Malang, aku dan saudara kembarku tetep setia menggunakan sepeda kayuhku ketika bepergian, sepeda yang telah menjadi ssahabat sekaligus saksi bisu dalam setiap goresan petualangan hidup yang memesona ini.
Thanks black pit!
Best regard,
dinoltwins


0 komentar:
Posting Komentar