Selasa, 12 Mei 2015

You calling me "baby twins"

Malang, 12-5-2015

Terlahir menjadi seorang kembar menandakan kita akan dengan lama memiliki seorang teman, kawan, sahabat yang ada dihari-hari kita, di suka duka kita, mudah susah kita, manis pahit hidup kita, semuanya dirasakan bersama-sama. Kembar artinya berdua, manusia yang terlahir dengan keistimewaan sendiri dibanding anak-anak lainnya yang juga lahir di dunia. Kembar kebanyakan hidup bersama dalam durasi waktu yang lumayan lama. Terlebih jika bersama hingga dewasa, seperti aku dan kembaranku.

Selama hidup ini kita selalu bersama dimanapun dan kapanpun. Kami tidak pernah berpisah. Kasarannya begitu. Tapi, ternyata tidak. Kami pernah berpisah untuk beberapa waktu dan beberapa hari. Jika tidak bersama ibarat satu nyawa terbelah dua - tidak lengkap (alay).

Menjadi kembar itu menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Kenapa bisa begitu? Hahaha

Karena dengan terlahir menjadi pasangan kembar, kita bisa saling membantu dan bertukar cerita, berbagi kawan, menambah kawan, membantu kawan kembaran, berbagi pekerjaan, dan masih banyak lagi yang lainnya dari apa yang bisa saya ambil dari terlahir dengan pasangan.

Menulis cerita inipun saya masih merasa aneh dan heran. Kuasa Allah SWT itu sangat indah ya? Alhamdulillah. Saya seorang perempuan muda, hidup bersama dengan orang yang seumuran dengan saya, terlahir dihari yang sama dan saya bersamanya sejak masih di kandungan ibu saya.

Menjadi kembar, kebanyakan alur hidupnya sama. Jika berbeda pun paling juga tidak banyak.

Kembar…..

Teman yang bisa diajak ngapain aja, sesuka aja, kemana aja – gak perlu khawatir.

Beruntung, kembar ku ini aku memiliki dua orang kakak yang bukan kembar. Tapi, aku hanya akan menceritakan satu diantara dua kakak non kembarku itu. Dialah kakak non kembar keduaku. Namanya Novi, biasa dipanggil Ivon (dulu pas dia masih kuliah S1 di Jogja). Dialah kakak yang kita (gue) banget! Dia adalah seorang perempuan yang hidupnya kakak banget! Berkat izin Allah, melihat kegiatan dia yang dulu jaman kecilnya usil banget, dia berhasil ngajarin kita gimana caranya hidup liar (survive) dari goncangan hidup dunia yang penuh semak belukar (lika-liku kehidupan). (Uaallaaay....) haha

I Love You Mbk Pix, kwkw

Dia dan kita (kembar) pautan umurnya lumayan jauh. Tapi kadang dia bilang kalau pas lagi bergurau dengan kita, ibarat dia gak punya wibawa. Kita sama-sama gak mau ngalahnya dan sama-sama ketawa bareng yang entah itu ketawa macam apa, dan itu sama.

Sejauh ini kita semua terkadang saling merindukan kebersamaan itu. Dia menganggap kita (kembar) seorang bocah, dan selamanya menjadi bocah. Bocah yang pantas untuk diganggu dan di uyel-uyel.

Dan kami memiliki kenangan yang sering dijadikan sebagai umpan mengutarakan rindu, yaitu “tuch tuch tuch” hahaha

Dialah kakak yang membawa dan mengenalkan kita dengan kampus kita sekarang. Dia yang menemani kita sama-sama berjuang mendapatkan satu bangku di Universitas. Kakak yang rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, hati, dan cintanya kepada kita. Dia ada dimanapun kita berada.

Aku sangat merindukannya. Mbk Pix

Sehatkah kau disana?

Mbk Opix, kakak yang akan dengan senang hatinya berbagi cerita dan memotivasi hidup kita diwaktu kita sedang jenuh dan bingung dengan tugas kuliah. Dia ibarat tempat untuk mengadu dan berbagi.

Dia, seorang pejuang prestasiku dan penyemangat bakatku.

Diwaktu kita masih satu sekolah di Jogja, dia pernah mengatakan dan mengeluhkan tentang peraturan sekolah yang sangat ketat dan menghambat tersalurnya bakat-bakat yang dimiliki oleh siswi-siswi sekolah.

Dia melihat kita (kembar) memiliki bakat dan dia sangat menyayangkan jika bakat kita tidak tersalurkan dengan baik. Dia (sedikit) marah dengan salah satu guru pengajar di kelasnya.

Sedikit yang ku ingat “bagaimana dengan bakat adik saya? Dia punya potensi disini?”. Kalimat yang membuatku terharu dan sangat salut dengan kakakku ini. Dan kenapa aku baru diberi tahu ketika aku sudah lulus dari sekolah itu?.

Pantas saja, setiap kali aku mengikuti kejuaraan, dia orang yang paling semangat untuk mendukung dan mendoakanku agar mendapatkan hasil terbaik.

Dia hebat! Bahkan sampai sekarang pun, dia masih melakukannya.

Dia mungkin tidak pandai di bidang yang menjadi potensiku ini. Memang, karena kami berbeda. Dia sangat berbakat di bidang akademik, sedangkan kita (kembar) tidak. Potensi kita lebih condong dibidang non akademik. Prestasi yang kita raih saat sekolah sejak SD hingga MA pun di dominasi dari cabang non akademik. Namun, kami akan selalu siap saling mendukung semuanya.

Dia hobi sekali menjadi bolang, membaca komik, dan kebanyakan apa yang menjadi kebiasaannya sukses diturunkan kepada adik-adiknya. Aku salah satu adik yang juga senang menjadi bolang. Perpetualang dan bermain (kebanyakan) sendiri. Bersepeda sesuka hati, jalan sesuka hati, kemanapun sesuka hati.

Dia kakak yang lucky. Dulu saat di sekolah dia terkenal cuek. Bahkan aku menilainya dia garang. Tapi, hatinya baik.

Sayangnya Allah dengan dia, dia diterima di perguruan tinggi terbaik di Jogja dengan sekali tes. UGM jurusan Psikologi, angkatan 2007. Dia memang keren.
Cyaaattt..!!! Di depan tower Psikologi UGM

Mueeheehe :D

Gak lepas dari SMS an sama Mbk Pix :)

The only one women delegation from 2012 generation :o  

Huweee :p

what are you looking for?
 

Aku dan kembaranku dulu mendaftar melanjutkan studi di UGM, tapi gagal. Bahkan berkali-kali. Allah menempatkan Universitas lain yang terbaik untuk ku. Dan sekarang, berkat izin Allah dan bantuan mbk Pix, aku dan kembaranku ditakdirkan untuk bersama lagi di Universitas ku sekarang.

Mbk Pix dan kita (kembar) selalu keep in touch, karena kami saling merindukan. Beberapa kali dia main ke Malang untuk berlibur dan menjenguk kita. Bahkan kita pun setiap kali liburan selalu pulang ke Jogja dan tinggal bersamanya dikosan dia karena sekarang dia masih kuliah untuk melanjutkan masternya di Universitas yang sama. Setiap kali kami harus berpisah untuk melanjutkan tugas dan kuliah kita masing-masing, kami berkirim pesan yang mengutarakan kerinduan akan kebersamaan.

Entah dikata kosan jadi sepi-lah, gak ada teman-lah, pengen ada yang diuyel-uyel-lah, semua tentang kita.

Kita, meskipun berpaut usia yang lumayan jauh, namun kita seperti kembar tiga. And you calling us with baby twins.

I Love You Mbk Pix. You Rock!!!

Minggu, 10 Mei 2015

Hidup bertahan dari seleksi sang alam (dinol and sista version)


Malang, 9-5-2015

Malam ini aku menangis, menangis karena menonton video klip. Kisah dalam video yang menceritakan tentang mimpi seorang anak dari ibu dan ayahnya yang sudah tua dan seorang ahli reparasi benda-benda elektronik.

Aku menangis karena lagi-lagi semua menceritakan tentang mimpi dan cita-cita. Tidak hanya itu, sebab dibalik kesuksesan cita-cita seorang anak keluarga adalah lakon dibalik itu semua. Bagaimanapun hasilnya dan perjuangannya, keluarga merupakan wadah dari sekumpulan orang yang juga merasakan kebahagiaan dan betapa bangganya memiliki anak yang sukses dan berhasil meraih mimpi dan cita-citanya.

Dari menonton video tersebut, aku kembali mengingat masa kecilku bersama dengan ayah dan ibuku. Aku yang gemar membantu ayah membereskan dan memperbaiki peralatan elektronik dan mesin-mesin, baik mesin diesel dirumah maupun sepeda motor ayahku yang biasa digunakan pergi pulang ke dan dari kantor yang saat itu sudah motor tua dan sangat ingin sekali diperhatikan karena kondisinya yang tidak lagi prima seperti motor-motor baru, sepeda motor laki-laki dengan tangki bensinnya yang berwarna kuning. Ibu yang dengan telatennya menyiapkan hidangan baik gorengan maupun nasi goreng di hari-harinya saat kami memperbaiki motor ayah di teras depan rumah. Untuk itu aku selalu teringat akan sebuah lagu

 

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa

 Hanya memberi tak harap kembali

 Bagai sang surya menyinari dunia”

 

Ayah, Ibu.

Maafkan aku jika aku lupa dengan mimpi dan cita-citaku. Aku tidak pernah mempunyai banyak mimpi. Sedikit yang aku ingat saat aku masih kecil, aku ditanya oleh seseorang saat bermain-main di ruang tamu tentang mimpi dan cita-cita. Aku mengatakan bahwasanya aku ingin pergi ke Jepang, sebuah negara yang sedari dulu terkenal dengan teknologi dan kemajuan robotiknya.

Bahkan hingga sekarangpun aku masih sangat menginginkan aku dapat pergi  ke Jepang, entah dengan dan acara apa? Tidak banyak seperti teman-temanku yang ingin ke Inggris. Sepertinya mereka telah jelas sekali ingin mengapa, mereka ingin melanjutkan kuliah di salah satu Universitas ternama di negara sana.

Ayah, Ibu.

Sudah merasa bahagiakah kalian dengan usahaku? Seberapa besarkah keberhasilanku di hadapan kalian? Banggakah kalian dengan apa yang telah aku perjuangkan selama ini?

Ayah, Ibu.

Aku tidak tahu, apakah kesedihan kalian akan kalian tunjukkan dihadapanku. Aku merasa bersalah jika aku hanya mengadukan kelelahanku saat aku mendapatkan tugas kuliah. Padahal kalian tidak pernah sekalipun mengeluhkan kelelahan kalian sepulang kerja dan melakukan tugas kantor. Bahkan semangat Ayah yang harus bolak-balik Rumah – Pekanbaru –Pekanbaru – Rumah dengan durasi waktu yang tidak singkat (4 jam sekali perjalanan, dan total hampir 10 jam untuk pergi – pulang).


Ayah, Ibu.

Aku tidak ingin pengorbananku untuk menjauh dari keluarga berakhir dengan sia-sia. Aku akan berhasil dan sukses membawa nama harum keluarga di mata dunia. Namun, entah kapan aku bisa melakukannya. Ketika aku bertemu dan berbagi cerita dengan teman-temanku di kampus, terkadang aku merasa menjadi orang yang tidak sepintar dan sekritis pemikiran mereka. Disini, di kota ini aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa hebat dan pintar. Dari situ terkadang aku merasa menjadi orang yang paling kecil dan tidak mengerti apa-apa.

Ayah, Ibu.

Saat ini, masih aku yang memilih untuk berpisah paling jauh dengan keluarga. Semua juga kerana pilihanku sendiri untuk memilih di Universitas ini. Dibalik kisah Universitas yang tidak pernah masuk sebagai daftar salah satu Universitas ketika kelas XII.

Ayah, Ibu.

Petualanganku belum berhenti disini, aku masih memiliki banyak utang kepada kalian. Sekali lagi, maafkan aku jika aku masih belum membuat kalian bangga. Kala itu aku sempat membuat kalian sedih karena tidak diterimanya aku di salah satu Universitas terbaik di Jogja. Padahal kalian berpesan agar aku tidak meninggalkan kota Jogja. Namun, nyatanya Allah berkehendak lain.

Kebetulan saja seorang teman di Jogja mengirimkan pesan dan menyertakan link Almamaternya di jejaring sosial ditengah kegalauan dan ketidakceriaanku yang hampir putus asa hanya karena masalah Universitas.

Untuk melakukan tes seleksi masuk pun, aku harus diam-diam dari semua keluarga. Bukan apa-apa, hanya saja aku takut akan membuat kekecewaan selanjutnya pada kalian. Dana pendaftaran yang berasal dari uang logam hasil pengumpulan sejak kelas VIII, uang yang disimpan di celengan buatan sendiri dari kaleng minuman bersoda (Sprit, Fanta) dan kaleng bekas makanan kaleng (Astor Twister, permen Tango).

Terkumpul tidak lebih dari Rp500.000.

Tak sempat bersembunyi terlalu lama, saat aku menukarkan uang tersebut ke Bank, hapeku dengan nada dering lagunya Simple Plan yang berjudul Jet Lag berdering dan bernyanyi di tengah antrian teller. Ibu seperti biasanya menanyakan aku sedang berada dimana. Sebab tak kuasa untuk lama menyimpan sebuah rahasia, aku pun mengatakan yang sesungguhnya bahwa aku sedang di Bank untuk menukarkan uang logam dengan uang kertas yang akan aku gunakan sebagai uang pendaftaran tes seleksi masuk di Universitas (ku yang sekarang).

Ibu.

Mendengar suaramu saat itu saja aku seperti menjadi anak yang paling berdosa karena tidak mengindahkan pesanmu agar aku tetap melanjutkan studi di Jogja. Pertimbangan bahwa kami tidak memiliki sanak saudara di Jawa Timur. Itu yang membuat Ibu dan Ayah merasa takut akan nasib kami di sini kan?
Dinol dan Dian in action :D
 

Dengan cara seperti itupun, aku sempat merasakan apa yang kalian khawatirkan. Aku bersama dengan kedua kakakku harus merasakan pontang-panting di jalan karena kondisi yang membentuk kita untuk dapat bertahan dengan system “Bolang”, seperti yang dilakukan oleh para turis dari luar negeri, kami bertiga dengan tas ranselnya yang tidak besar namun berat dibuatnya berjalan hingga berkilo-kilo meter untuk mencari rumah singgah demi bermalam satu malam sebelum esoknya melakukan tes ujian tertulis di kampus tersebut.
Travelo sista kekeke

 

We are OKE!

Best partner

Mueehehe

Don't cry!!! Please kikiki

 
 

Tak cukup waktu untuk belajar dan mengulang pelajaran. Untuk istirahat pun kami merasa kekurangan waktu. Kenapa tidak? Saat itu aku dan kedua kakakku beranjak meninggalkan Kota Jogja untuk ke sini (Malang) pada pukul 23.15 wib selanjutnya kami baru tiba di Malang pada pagi hari. Itupun kami harus merasakan tersesat karena tidak menemukan rumah seseorang yang sebelumnya telah kami minta izin untuk bermalam.

Hanya beristirahat sebentar dan tidak akan melakukan kekeliruan. Kami beranjak untuk mencari dan melihat ruang tes esok hari supaya esok tidak kebingungan dan sukses untuk gagal tidak mengikuti serangkaian tes seleksi masuk perguruan tinggi tersebut. Esok di pagi harinya, saat semua penghuni kosan belum semua terbangun, kami telah sukses untuk bersiap-siap mengikuti tes di ruangan di kampus yang sebelumnya telah kami cari. Dengan berbekal doa dan keyakinan, aku dan kedua kakakku dengan gagah berani melejit ke kampus tersebut dengan berjalan kaki (Rute: Komplek perumahan Griya Shanta – Kampus Universitas Brawijaya Malang). Seusai seleksi pun, kami harus bertolak menginggalkan Kota Malang dengan berniat kembali ke Kota sebelumnya, Jogja.

Namun, kehidupan “Bolang” baru benar-benar di mulai. Aku beserta kedua kakakku sukses tidak mendapatkan tiket kereta. Hal itu membuat kami harus mengambil jalan lain agar kami dapat beristirahat meskipun sedikit nyaman. Kakak kedua-ku kebetulan memiliki sahabat di Surabaya, dia pun akhirnya memutuskan untuk kita mampir dan beristirahat di sama. Sebelumnya pun kami sempat akan kena tipu oleh seorang bapak yang ingin meminjam tiket kita dengan alasan ingin menjemput ibunya di luar (alih-alih memberikan jaminan sebuah telepon genggam dan KTP). Entah kenapa pula, tiket yang dibelinya salah tujuan. Stasiun yang seharusnya dituju adalah stasiun Gubeng Kota Surabaya namun yang tertera di kertas tiket pesanannya adalah stasiun Turi, Stasiun pasar Turi. Di dalam kereta – setelah kami menyadari hal tersebut kami berencana untuk tidur dengan “sok pulas” atau bahkan menangis apabila bagian pemeriksaan kereta meminta kami untuk turun di stasuin pemberhentian berikutnya pasca tiket kami diperiksa olehnya. Bagaimana kami tidak berencana untuk melakukan hal demikian? Karena saat itu waktu telah larut malam, dan kami hanyalah seorang bocah ingusan yang baru saja keluar dengan liar di kehidupan yang ternyata butuh penghayatan. Muueeheehee
Kaki yang selalu melangkah, OKE
 

Namun, ternyata hal yang paling kita takutkan tidak terjadi. Kami tetap sampai di stasiun Gubeng Kota Surabaya hampir tengah malam. Alhamdulillah, kami bertiga di jemput oleh Ayah teman kakakku. Sesampainya di rumah keluarga tersebut, kami bebersih diri dengan air secukupnya, ngobrol sebentar sekadar basa-basi  dan tidur karena paginya kami harus persiapan untuk makan sahur perdana sebelum jam 7 paginya kami harus kembali untuk ke stasiun dan meneruskan perjalanan ke Jogjakarta.

Ayah, Ibu.

Kereta Api adalah sahabatku selama ini, salah satu kendaraan yang menolongku untuk melakukan ekspedisi one day trip demi melanjutkan studi dan mengejar juga meraih mimpi dan cita-cita. Kegemaranku menulis juga belum lama, untuk itu aku berusaha untuk kembali mengingat perjalanan hidupku ini agar jika sewaktu-waktu telah terjadi sesuatu kepadaku. Aku bisa mengingat dan mengenangnya kembali. Bahwasanya aku terlahir dengan pribadi yang tidak mudah untuk menyerah.

Aku menyadari akan keterbatasanku, ketertinggalanku sangat banyak jika aku membandingkan mimpi dan cita-citaku dengan beberapa teman-temanku saat ini di Kampus. Aku tidak ingin menyalib mereka dengan segala mimpi-mimpi indahnya, aku hanya ingin berjalan berdampingan dengan mereka di rel perjalanan hidupku sendiri.

Beruntung aku dipertemukan dengan beberapa teman yang bercita-cita tinggi. Seperti yang ingin melanjutkan studi S2 nya di Oxford, Adelaide, Waseda dan masih banyak lagi. Semoga dengan perjalanan dan kerja keras masing-masing kita, semua mimpi dan cita-cita akan segera terwujudkan dan selalu diberikan olehNya yang terbaik bagi semua. Aamiin

I LOVE YOU AYAH, I LOVE YOU IBU

Kamis, 07 Mei 2015

Ayahku, Ibuku, aku, dan Kampungku


Ayahku Ibuku keren!
itulah kalimat pertama yang aku ucapkan dan tuliskan di dalam blog harian “sesuka hatiku untukku ceritakan”.

Malam ini, di tengah kebahagiaan hariku seperti biasa aku merasa “sok kaya” dengan mengikuti program paket telepon malam. TM ON kirim ke 89** maksudnya memang sengaja untuk berkomunikasi dengan orangtuaku dan saudaraku (di Jogja dan di Rumah).

Awalnya untuk memberi kabar tentang kronologi sepatu baru yang hari ini aku beli bersamaan dengan kembaranku. Sepatu dengan harga yang relative lebih miring dari harga sepatu pertama yang ternyata juaauuh banget miringnya. Hehe

Hari ini, aku dan saudara kembarku kembali ke salah satu pusat perbelanjaan di dekat kampus dengan niat menjenguk sepatu yang sudah 3 bulan lalu kami incar. Siapa tahu harganya terjun jauh dari harga yang dulu sempat kami lihat (yang dulu membuat kami sukses gagal beli karena kondisi kantong). Ternyata benar, harganya terjun bebas dari harga yang dulu! Jingkrak-jingkrak dalam hati, telepon ibu bapak sama mbak hehehe.

Tanya ke salah satu penjaga sepatu, minta dicarikan nomer sepatu ukuran 38.

Toeng-toeng! Takdir gak sepihak sama kita, aku dan kembaranku udah nunggu luamaaa buanget, mas nya masih muter-muter nyari sepatu sesuai pesenan kita, setengah jam berlalu, tambah lima menit lagi berlalu, tambah lima menit mas nya nyamperin kita sambil bilang “sepatunya ketlingsut mbk, ini aja (sepatu yang di pegang alias sepatu pajangan yang biasa di coba-coba) pasangannya dicari gak ada”.

Kita sontak tatap-tatapan (saling kode pengertian), “owalah, gak ada to? Dicari gak ketemu ternyata”. Yaudah deh, mas gapapa. Besok lagi aja klo ada kesini lagi (insyaallah).

Niatan hati mau ganti sepatu yang mau dibeli, tapi gak jadi karena kurang sreg sama warnanya. Akhirnya kita jalan ninggalin ma**ha**, trus jalan ke gra**di*. Berhubung juga udah rada gelap, kita ninggalin gra**di* setelah baca-baca sedikit buku dan jalan-jalan muterin rak buku.

Turun lewat escalator, nemu salah satu toko sepatu lagi (B**a), “coba mbk Ian tengok ke sana sebentar, mungkin ada sepatu yang cocok sama kita” hehe

Masuk dan ketemu! Sumpah harganya miring abis, bahkan kita bisa hemat sampe Rp50.000/orang sepatunya mah kita banget wes. Tumbas trus pulang, oyyeeeyyy!!!

*Telepon

Malam ini, aku tidak ingin bercerita banyak dengan ayah dan ibuku. Sebab jika aku bercerita banyak seperti biasanya, yang ada hanya semua keluhan-keluhan lelahku dengan kegiatan harian yang biasa aku jalani di sini yang keluar. Itu tidak selalu menghasilkan solusi.

Kuberikan jatah pada ayahku untuk menceritakan tentang kegiatannya hari ini. Aku ingin mendengar banyak cerita darinya. Awalnya beliau menceritakan tentang kancil, kemudian timun yang hilang karena berlari (berlari akibat di lempar oleh seseorang), kemudian benda yang memiliki kaki namun tidak berlari (kursi).

Ayahku tetap melanjutkan ceritanya dan aku menyimak dengan seksama (aku sangat senang dengan cerita) *benar-benar menyimak dan penasaran.

Ayah melanjutkan ceritanya, dengan menanyakan “jika kamu melihat sesuatu, apa yang kamu lihat? Di akhirnya atau di awal? Aku menjawab di akhir tapi juga melihat awal”.

Kemudian, berapa jumlah angka yang sering digunakan? Aku jawab 10. Ayahku meminta untuk menyebutkannya. Aku spelling- kan 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9. Benar, respon ayahku.

Selanjutnya ayahku menceritakan tentang seringnya seseorang memarginalkan angka 0. Kebanyakan memang beranggapan bahwa angka 0 itu tidak ada artinya. Akan tetapi coba dilogikakan, jika kita memiliki uang Rp10.000,- jika tidak ada angka 0, angka berapa yang kita peroleh? 1, cukup 1 dan seterusnya. Mungkin angka 0 akan tidak berguna jika letaknya berada di belakang koma (,) tapi coba bayangkan jika di depan koma. Artinya luar biasa dan bilangannya pun luar biasa.

Kesimpulan: angka 0 sangat berarti.

Cerita berlanjut pada kisah air (jernih), saat kita melihat bangunan apa yang kita lihat? Bangungan jadi dengan segala pernak-perniknya. Ingatkah kita bahwa bangunan terbangun dan berdiri juga karena ada faktor air (jernih)? Mungkin saat kita melihat bangunan gedung beton berdiri kokoh kita tidak pernah membayangkan atau bahkan lupa jika air (jernih) juga berperan banyak di sana.

Semen yang di campur dengan pasir sebagai bahan perekat bangunan itu selalu di campur dengan air (jernih). Air (jernih) sangat berguna dan memberikan pengaruh yang besar.

Kesimpulan: air (jernih) à kecil yang berarti.

Kembali diingat, bangunan yang berdiri kokoh itu tegak diatas apa? Fondasi.

Apakah fondasi itu tampak? Tidak. Fondasi tidak tampak sebab tertutup tanah. Bagian manakah yang sering disanjung banyak orang? Atas (bangunan tampak). Apakah fondasi melakukan protes dengan bangunan tampak atas? Tidak.

Apa fungsi fondasi? Sebagai penyangga. Bagaimana bangunan yang baik dapat berdiri kokoh? Dipengaruhi oleh fondasi yang kuat.

Kesimpulan: fondasi merupakan bagian dari bangunan yang tidak terlihat namun memberikan pengaruh yang sangat banyak dan besar terhadap eksistensi bangunan yang biasa disanjung oleh banyak orang. Akan tetapi fondasi tidak pernah melakukan protes. Jadilah seperti fondasi yang selalu bisa mengikhlaskan dirinya demi manfaat yang dapat dirasakan dan diterima oleh bagian lainnya

Saat kita melihat sesuatu, ingatlah “jas merah” sebuah sejarah awal terbentuknya sesuatu. Hasil ditentukan dengan proses yang tidak singkat.

Pesan Ayah: Targetlah hidup dengan rambu-rambu dan segala aturan yang dapat menyampaikan dirimu pada impian, ikhlaslah selalu demi apapun. Jadilah sesuatu yang bermanfaat meskipun sedikit “tak apa”.

Jadilah seperti fondasi, jadilah seperti air (jernih) jadilah seperti angka 0. Dengan menjadi seperti demikian, kita akan terbimbing untuk selalu ikhlas berbagi tanpa mengharapkan sanjungan dari orang-orang disekeliling kita yang melihatnya.
 

 

 

 
SMAN Pintar Taluk Kuantan, Kelihatan cantik (bangunan selalu berfondasi)
 

Jadilah seperti gula, jadilah seperti garam yang ketika di campur dengan air (jernih) mereka tidak merubah warnamu, melainkan memberikan rasa untukmu.

Nasihat ayah malam ini, Ayahku ku super. Biarkan aku menjadi orang pertama yang menjadi fans mu Ayah. I love you

*Hari ini pun Ayahku mendapatkan kado spesial dari Ibu.

Ibuku sangat perhatian dengan Ayah, kisah mereka membuatku selalu terenyuh. Hari ini ibu pergi ke Taluk Kuantan, sebuah tempat yang kami menganggapnya sebagai kota. Meskipun keadaannya tidak seramai kota-kota yang ada di Jawa. Kami menganggapnya kota sebab di Kota Taluk Kuantan banyak sekali didapati perkantoran dan pasar serta toko-toko kelontong dan apotek juga rumah sakit. Jika dibandingkan dengan kota-kota di Jawa, Kota itu masih sepi dari keramaian, namun lebih lumayan ramai jika dibandingkan dengan rumahku, di desa.

Ibuku mampir di toko tempat dulu aku dan Ibu membeli sebuah hadiah bersejarah “Raket” untukku di toko Mekarsari dekat lapangan Limono, Taluk Kuantan. Disana Ibu membelikan Ayah hadiah baju, kata ayahku baju lebaran.

Kisah perjuangan Ibu dan Ayahku selalu memberiku inspirasi, mungkin yang membuatku hingga sekarang selalu menahan diri untuk membuang-buang uang atas perihal yang kurang penting dan sering membuatku iba dan merasa “kasihan” dengan perjuangan orang lain yang setiap harinya harus mendorong gerobak kayunya yang berisikan beberapa belas tabung gas berwarna hijau dan satu buah bak yang berisikan minyak tanah dari pagi bahkan hingga malam. Betapa tidak mudahnya mencari sesuap nasi.

Aku selalu bersyukur dengan keadaan keluarga kami sekarang, dulu aku juga pernah merasakan susahnya hidup. Desa kami dulu jauh dari modernitas, aku baru merasakan listrik dan lampu neon saat duduk di bangku kelas empat SD, pun masih menggunakan diesel.

Sebelum ada diesel sendiri dirumah, kami tidak pernah menonton siaran TV seperti sekarang. Dulu TV hanya ada TVRI dan kami harus menggunakan bantuan AKI untuk menyalakannya. Saat itu hanya satu sampai tiga rumah yang telah memiliki diesel dan TV dengan channel yang lumayan banyak, dan kami (tetangga yang lain) harus menyambungkannya untuk rumah kita masing-masing demi lampu penerang di rumah. Pun dengan batas maksimal jam 22.00 Wib, selanjutnya kami harus menyalakan lampu “teplok” (lampu minyak) sebagai penerang rumah kami hingga shubuh jam 06.00 Wib.

Panjul jadi spot nya

Zhafran

 

Sore Jogja dengan kolam UNY dan pelangiMu

Pagi Malang dengan kabel lisriknya

Pagi Jogja dengan rel kereta sahabat bolang

Pagi mentari di kosan mbk Pix
 
Siang rumah dengan bunga Ibu dan tiang juga kabel listriknya
 
 
 
Parabola buat sambungan channel TV di rumah
 
 
Calon rumah Zhafran dan keluarga di depan rumah
 
 
Keadaan Riau dari ketinggian (jarang ada pemukiman, mayoritas perkebunan kelapa sawit)
Dulu yang namanya mau menonton, kami selalu antusias dengan adanya layar tancap (aku pernah nonton bareng dengan masyarakat se-desa) luar biasa!

Klo tidak kami ngikut dengan tetangga atau kerabat yang punya diesel sendiri dan TV dirumah. Bahkan kami pernah menginap dirumahnya.

Sekarang Alhamdulillah udah masuk PLN, yang dulunya PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel). Pun ada saat aku udah kelas X dan posisinya ada di Jawa.

Alhamudulillah sekarang desaku sudah mengalami kemajuan.