Bulan
ini, liburannya diisi dengan tugas bikin esai. Yang ngasi tugas PRPK Malang (Pusat
Riset & Pengembangan Keilmuan cabang Malang). Satu dari beberapa organisasi
yang bergerak dibidang pengembangan nalar dan imajinasi di Kota Malang –
digerakkan oleh IMM Cabang Malang. Aku dan beberapa temanku dikasi tugas buat
latihan menjahit kata dalam bentuk esai dengan ketentuan 2000-3000 kata. Fantastis!
Kategori
umum tentang IMM.
Tulisan
macam apa yang aku buat? Bagus dan jeleknya entah seperti apa, yang jelas
meskipun aku sudah menulis, tapi tulisanku belum juga selesai. Buntu, mau
menumpahkan tulisan apa lagi di tugasku ini. Sekarang belum juga aku teruskan sedangkan
aku lebih memilih untuk menulis tulisan lain (Baca Blog) – yang tulisannya
lebih bebas tanpa harus menggunakan studi literature dari beberapa bacaan,
cukup cerita dan itu lebih menyenangkan _ Bagiku.
Terkadang,
menulis bebas itu lebih menyenangkan dan lebih bisa (mudah) dilakukan dari pada
menulis formal (studi literature) yang musti banyak mengonsumsi dan
menghabiskan waktu untuk mencari sumber-sumber yang pas sehingga tulisan itu
dapat sinkron dan dapat dipahami.
Tapi,
benar juga jika studi literature itu penting sebagai upaya pengembangan ilmu
pengetahuan dari pemanfaatan ilmu-ilmu yang sudah ada. Kembali lagi kehobi,
sebenarnya ada kaitannya dengan pengalaman dan kemauan dari belajar dan
berusaha. Saya mengaitkan banyaknya dari orang-orang menuangkan tulisan itu
menjadi tulisan formal adalah pasalnya mereka senang membaca kritis terhadap
bacaan yang dikonsumsinya. Sehingga begitu selesai dibaca, ada greget
tersendiri untuk sekedar melakukan kritik
atau tambahan dari sumber bacaan lain yang bisa digunakan untuk
melengkapi atau menyempurnakan dari apa yang dia baca. Dengan begitu, dia akan
membuat tulisan yang dapat dikatakan formal.
Berbeda
dengan orang yang ‘kurang (tidak) suka membaca,’ seperti saya misalnya yang
lebis suka menuliskan sesuatu berdasarkan pengalaman dan pengamatan – meskipun pengamatan
tidak mendalam – sehingga banyak yang bilang sebagai pendapat asumtif.
Dilemma,
ketika harus mengeluarkan pendapat. Takut dibilang tidak ada dasarnyalah, mana
teorinya, pendapatmu gak cocok dengan yang semestinya dsb. Itulah mengapa saya
ketika dikelas cenderung lebih banyak diam dan mendengarkan dari apa yang
disampaikan oleh Dosen dan teman-teman ketika berdiskusi dan ditutup dengan
pertanyaan – apakah yang mereka katakan itu masuk akal atau sekedar mengambang
pada pertanyaan lain sehingga pertanyaan pertama tidak terjawab dan ditutup
dengan pertanyaan selanjutnya?
Sebenarnya
jika dibilang bodoh, tidak juga. Aku tidak bodoh. Sama sekali tidak bodoh. Hanya
kurang aktif saja sehingga cenderung lebih pendiam dari pada teman-teman yang
lain. Aku cukup bertanggungjawab terhadap apa yang ditugaskan dan dapat
menyelesaikan meskipun jika dinilaikan ada juga teman-teman yang memeroleh
nilai di atas ku. Tapi, tetep saja ada beberapa teman yang nilai nya dibawahku.
Itulah yang membuatku menyebut diriku tidak bodoh.
Hidup
ideal itu bagiku tidak ada, hanya saja kebahagiaan yang membuat kita merasa
bahwa hidup kita telah ideal. Ku berharap,
tugas esaiku dapat selesai dengan baik dan terus semangat belajar. Mengutip satu
quote “life is not a competition, just find your happiness and stay there”
(Surfer Girl, 2014).