Minggu, 01 Februari 2015

Tugas Bikin Esai



Bulan ini, liburannya diisi dengan tugas bikin esai. Yang ngasi tugas PRPK Malang (Pusat Riset & Pengembangan Keilmuan cabang Malang). Satu dari beberapa organisasi yang bergerak dibidang pengembangan nalar dan imajinasi di Kota Malang – digerakkan oleh IMM Cabang Malang. Aku dan beberapa temanku dikasi tugas buat latihan menjahit kata dalam bentuk esai dengan ketentuan 2000-3000 kata. Fantastis!

Kategori umum tentang IMM.

Tulisan macam apa yang aku buat? Bagus dan jeleknya entah seperti apa, yang jelas meskipun aku sudah menulis, tapi tulisanku belum juga selesai. Buntu, mau menumpahkan tulisan apa lagi di tugasku ini. Sekarang belum juga aku teruskan sedangkan aku lebih memilih untuk menulis tulisan lain (Baca Blog) – yang tulisannya lebih bebas tanpa harus menggunakan studi literature dari beberapa bacaan, cukup cerita dan itu lebih menyenangkan _ Bagiku.

Terkadang, menulis bebas itu lebih menyenangkan dan lebih bisa (mudah) dilakukan dari pada menulis formal (studi literature) yang musti banyak mengonsumsi dan menghabiskan waktu untuk mencari sumber-sumber yang pas sehingga tulisan itu dapat sinkron dan dapat dipahami.

Tapi, benar juga jika studi literature itu penting sebagai upaya pengembangan ilmu pengetahuan dari pemanfaatan ilmu-ilmu yang sudah ada. Kembali lagi kehobi, sebenarnya ada kaitannya dengan pengalaman dan kemauan dari belajar dan berusaha. Saya mengaitkan banyaknya dari orang-orang menuangkan tulisan itu menjadi tulisan formal adalah pasalnya mereka senang membaca kritis terhadap bacaan yang dikonsumsinya. Sehingga begitu selesai dibaca, ada greget tersendiri untuk sekedar melakukan kritik  atau tambahan dari sumber bacaan lain yang bisa digunakan untuk melengkapi atau menyempurnakan dari apa yang dia baca. Dengan begitu, dia akan membuat tulisan yang dapat dikatakan formal.

Berbeda dengan orang yang ‘kurang (tidak) suka membaca,’ seperti saya misalnya yang lebis suka menuliskan sesuatu berdasarkan pengalaman dan pengamatan – meskipun pengamatan tidak mendalam – sehingga banyak yang bilang sebagai pendapat asumtif.  

Dilemma, ketika harus mengeluarkan pendapat. Takut dibilang tidak ada dasarnyalah, mana teorinya, pendapatmu gak cocok dengan yang semestinya dsb. Itulah mengapa saya ketika dikelas cenderung lebih banyak diam dan mendengarkan dari apa yang disampaikan oleh Dosen dan teman-teman ketika berdiskusi dan ditutup dengan pertanyaan – apakah yang mereka katakan itu masuk akal atau sekedar mengambang pada pertanyaan lain sehingga pertanyaan pertama tidak terjawab dan ditutup dengan pertanyaan selanjutnya?

Sebenarnya jika dibilang bodoh, tidak juga. Aku tidak bodoh. Sama sekali tidak bodoh. Hanya kurang aktif saja sehingga cenderung lebih pendiam dari pada teman-teman yang lain. Aku cukup bertanggungjawab terhadap apa yang ditugaskan dan dapat menyelesaikan meskipun jika dinilaikan ada juga teman-teman yang memeroleh nilai di atas ku. Tapi, tetep saja ada beberapa teman yang nilai nya dibawahku. Itulah yang membuatku menyebut diriku tidak bodoh.

Hidup ideal itu bagiku tidak ada, hanya saja kebahagiaan yang membuat kita merasa bahwa hidup kita telah ideal.  Ku berharap, tugas esaiku dapat selesai dengan baik dan terus semangat belajar. Mengutip satu quote “life is not a competition, just find your happiness and stay there” (Surfer Girl, 2014).

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar