Minggu, 10 Mei 2015

Hidup bertahan dari seleksi sang alam (dinol and sista version)


Malang, 9-5-2015

Malam ini aku menangis, menangis karena menonton video klip. Kisah dalam video yang menceritakan tentang mimpi seorang anak dari ibu dan ayahnya yang sudah tua dan seorang ahli reparasi benda-benda elektronik.

Aku menangis karena lagi-lagi semua menceritakan tentang mimpi dan cita-cita. Tidak hanya itu, sebab dibalik kesuksesan cita-cita seorang anak keluarga adalah lakon dibalik itu semua. Bagaimanapun hasilnya dan perjuangannya, keluarga merupakan wadah dari sekumpulan orang yang juga merasakan kebahagiaan dan betapa bangganya memiliki anak yang sukses dan berhasil meraih mimpi dan cita-citanya.

Dari menonton video tersebut, aku kembali mengingat masa kecilku bersama dengan ayah dan ibuku. Aku yang gemar membantu ayah membereskan dan memperbaiki peralatan elektronik dan mesin-mesin, baik mesin diesel dirumah maupun sepeda motor ayahku yang biasa digunakan pergi pulang ke dan dari kantor yang saat itu sudah motor tua dan sangat ingin sekali diperhatikan karena kondisinya yang tidak lagi prima seperti motor-motor baru, sepeda motor laki-laki dengan tangki bensinnya yang berwarna kuning. Ibu yang dengan telatennya menyiapkan hidangan baik gorengan maupun nasi goreng di hari-harinya saat kami memperbaiki motor ayah di teras depan rumah. Untuk itu aku selalu teringat akan sebuah lagu

 

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa

 Hanya memberi tak harap kembali

 Bagai sang surya menyinari dunia”

 

Ayah, Ibu.

Maafkan aku jika aku lupa dengan mimpi dan cita-citaku. Aku tidak pernah mempunyai banyak mimpi. Sedikit yang aku ingat saat aku masih kecil, aku ditanya oleh seseorang saat bermain-main di ruang tamu tentang mimpi dan cita-cita. Aku mengatakan bahwasanya aku ingin pergi ke Jepang, sebuah negara yang sedari dulu terkenal dengan teknologi dan kemajuan robotiknya.

Bahkan hingga sekarangpun aku masih sangat menginginkan aku dapat pergi  ke Jepang, entah dengan dan acara apa? Tidak banyak seperti teman-temanku yang ingin ke Inggris. Sepertinya mereka telah jelas sekali ingin mengapa, mereka ingin melanjutkan kuliah di salah satu Universitas ternama di negara sana.

Ayah, Ibu.

Sudah merasa bahagiakah kalian dengan usahaku? Seberapa besarkah keberhasilanku di hadapan kalian? Banggakah kalian dengan apa yang telah aku perjuangkan selama ini?

Ayah, Ibu.

Aku tidak tahu, apakah kesedihan kalian akan kalian tunjukkan dihadapanku. Aku merasa bersalah jika aku hanya mengadukan kelelahanku saat aku mendapatkan tugas kuliah. Padahal kalian tidak pernah sekalipun mengeluhkan kelelahan kalian sepulang kerja dan melakukan tugas kantor. Bahkan semangat Ayah yang harus bolak-balik Rumah – Pekanbaru –Pekanbaru – Rumah dengan durasi waktu yang tidak singkat (4 jam sekali perjalanan, dan total hampir 10 jam untuk pergi – pulang).


Ayah, Ibu.

Aku tidak ingin pengorbananku untuk menjauh dari keluarga berakhir dengan sia-sia. Aku akan berhasil dan sukses membawa nama harum keluarga di mata dunia. Namun, entah kapan aku bisa melakukannya. Ketika aku bertemu dan berbagi cerita dengan teman-temanku di kampus, terkadang aku merasa menjadi orang yang tidak sepintar dan sekritis pemikiran mereka. Disini, di kota ini aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa hebat dan pintar. Dari situ terkadang aku merasa menjadi orang yang paling kecil dan tidak mengerti apa-apa.

Ayah, Ibu.

Saat ini, masih aku yang memilih untuk berpisah paling jauh dengan keluarga. Semua juga kerana pilihanku sendiri untuk memilih di Universitas ini. Dibalik kisah Universitas yang tidak pernah masuk sebagai daftar salah satu Universitas ketika kelas XII.

Ayah, Ibu.

Petualanganku belum berhenti disini, aku masih memiliki banyak utang kepada kalian. Sekali lagi, maafkan aku jika aku masih belum membuat kalian bangga. Kala itu aku sempat membuat kalian sedih karena tidak diterimanya aku di salah satu Universitas terbaik di Jogja. Padahal kalian berpesan agar aku tidak meninggalkan kota Jogja. Namun, nyatanya Allah berkehendak lain.

Kebetulan saja seorang teman di Jogja mengirimkan pesan dan menyertakan link Almamaternya di jejaring sosial ditengah kegalauan dan ketidakceriaanku yang hampir putus asa hanya karena masalah Universitas.

Untuk melakukan tes seleksi masuk pun, aku harus diam-diam dari semua keluarga. Bukan apa-apa, hanya saja aku takut akan membuat kekecewaan selanjutnya pada kalian. Dana pendaftaran yang berasal dari uang logam hasil pengumpulan sejak kelas VIII, uang yang disimpan di celengan buatan sendiri dari kaleng minuman bersoda (Sprit, Fanta) dan kaleng bekas makanan kaleng (Astor Twister, permen Tango).

Terkumpul tidak lebih dari Rp500.000.

Tak sempat bersembunyi terlalu lama, saat aku menukarkan uang tersebut ke Bank, hapeku dengan nada dering lagunya Simple Plan yang berjudul Jet Lag berdering dan bernyanyi di tengah antrian teller. Ibu seperti biasanya menanyakan aku sedang berada dimana. Sebab tak kuasa untuk lama menyimpan sebuah rahasia, aku pun mengatakan yang sesungguhnya bahwa aku sedang di Bank untuk menukarkan uang logam dengan uang kertas yang akan aku gunakan sebagai uang pendaftaran tes seleksi masuk di Universitas (ku yang sekarang).

Ibu.

Mendengar suaramu saat itu saja aku seperti menjadi anak yang paling berdosa karena tidak mengindahkan pesanmu agar aku tetap melanjutkan studi di Jogja. Pertimbangan bahwa kami tidak memiliki sanak saudara di Jawa Timur. Itu yang membuat Ibu dan Ayah merasa takut akan nasib kami di sini kan?
Dinol dan Dian in action :D
 

Dengan cara seperti itupun, aku sempat merasakan apa yang kalian khawatirkan. Aku bersama dengan kedua kakakku harus merasakan pontang-panting di jalan karena kondisi yang membentuk kita untuk dapat bertahan dengan system “Bolang”, seperti yang dilakukan oleh para turis dari luar negeri, kami bertiga dengan tas ranselnya yang tidak besar namun berat dibuatnya berjalan hingga berkilo-kilo meter untuk mencari rumah singgah demi bermalam satu malam sebelum esoknya melakukan tes ujian tertulis di kampus tersebut.
Travelo sista kekeke

 

We are OKE!

Best partner

Mueehehe

Don't cry!!! Please kikiki

 
 

Tak cukup waktu untuk belajar dan mengulang pelajaran. Untuk istirahat pun kami merasa kekurangan waktu. Kenapa tidak? Saat itu aku dan kedua kakakku beranjak meninggalkan Kota Jogja untuk ke sini (Malang) pada pukul 23.15 wib selanjutnya kami baru tiba di Malang pada pagi hari. Itupun kami harus merasakan tersesat karena tidak menemukan rumah seseorang yang sebelumnya telah kami minta izin untuk bermalam.

Hanya beristirahat sebentar dan tidak akan melakukan kekeliruan. Kami beranjak untuk mencari dan melihat ruang tes esok hari supaya esok tidak kebingungan dan sukses untuk gagal tidak mengikuti serangkaian tes seleksi masuk perguruan tinggi tersebut. Esok di pagi harinya, saat semua penghuni kosan belum semua terbangun, kami telah sukses untuk bersiap-siap mengikuti tes di ruangan di kampus yang sebelumnya telah kami cari. Dengan berbekal doa dan keyakinan, aku dan kedua kakakku dengan gagah berani melejit ke kampus tersebut dengan berjalan kaki (Rute: Komplek perumahan Griya Shanta – Kampus Universitas Brawijaya Malang). Seusai seleksi pun, kami harus bertolak menginggalkan Kota Malang dengan berniat kembali ke Kota sebelumnya, Jogja.

Namun, kehidupan “Bolang” baru benar-benar di mulai. Aku beserta kedua kakakku sukses tidak mendapatkan tiket kereta. Hal itu membuat kami harus mengambil jalan lain agar kami dapat beristirahat meskipun sedikit nyaman. Kakak kedua-ku kebetulan memiliki sahabat di Surabaya, dia pun akhirnya memutuskan untuk kita mampir dan beristirahat di sama. Sebelumnya pun kami sempat akan kena tipu oleh seorang bapak yang ingin meminjam tiket kita dengan alasan ingin menjemput ibunya di luar (alih-alih memberikan jaminan sebuah telepon genggam dan KTP). Entah kenapa pula, tiket yang dibelinya salah tujuan. Stasiun yang seharusnya dituju adalah stasiun Gubeng Kota Surabaya namun yang tertera di kertas tiket pesanannya adalah stasiun Turi, Stasiun pasar Turi. Di dalam kereta – setelah kami menyadari hal tersebut kami berencana untuk tidur dengan “sok pulas” atau bahkan menangis apabila bagian pemeriksaan kereta meminta kami untuk turun di stasuin pemberhentian berikutnya pasca tiket kami diperiksa olehnya. Bagaimana kami tidak berencana untuk melakukan hal demikian? Karena saat itu waktu telah larut malam, dan kami hanyalah seorang bocah ingusan yang baru saja keluar dengan liar di kehidupan yang ternyata butuh penghayatan. Muueeheehee
Kaki yang selalu melangkah, OKE
 

Namun, ternyata hal yang paling kita takutkan tidak terjadi. Kami tetap sampai di stasiun Gubeng Kota Surabaya hampir tengah malam. Alhamdulillah, kami bertiga di jemput oleh Ayah teman kakakku. Sesampainya di rumah keluarga tersebut, kami bebersih diri dengan air secukupnya, ngobrol sebentar sekadar basa-basi  dan tidur karena paginya kami harus persiapan untuk makan sahur perdana sebelum jam 7 paginya kami harus kembali untuk ke stasiun dan meneruskan perjalanan ke Jogjakarta.

Ayah, Ibu.

Kereta Api adalah sahabatku selama ini, salah satu kendaraan yang menolongku untuk melakukan ekspedisi one day trip demi melanjutkan studi dan mengejar juga meraih mimpi dan cita-cita. Kegemaranku menulis juga belum lama, untuk itu aku berusaha untuk kembali mengingat perjalanan hidupku ini agar jika sewaktu-waktu telah terjadi sesuatu kepadaku. Aku bisa mengingat dan mengenangnya kembali. Bahwasanya aku terlahir dengan pribadi yang tidak mudah untuk menyerah.

Aku menyadari akan keterbatasanku, ketertinggalanku sangat banyak jika aku membandingkan mimpi dan cita-citaku dengan beberapa teman-temanku saat ini di Kampus. Aku tidak ingin menyalib mereka dengan segala mimpi-mimpi indahnya, aku hanya ingin berjalan berdampingan dengan mereka di rel perjalanan hidupku sendiri.

Beruntung aku dipertemukan dengan beberapa teman yang bercita-cita tinggi. Seperti yang ingin melanjutkan studi S2 nya di Oxford, Adelaide, Waseda dan masih banyak lagi. Semoga dengan perjalanan dan kerja keras masing-masing kita, semua mimpi dan cita-cita akan segera terwujudkan dan selalu diberikan olehNya yang terbaik bagi semua. Aamiin

I LOVE YOU AYAH, I LOVE YOU IBU

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar