Malang,
9-5-2015
Malam ini
aku menangis, menangis karena menonton video klip. Kisah dalam video yang
menceritakan tentang mimpi seorang anak dari ibu dan ayahnya yang sudah tua dan
seorang ahli reparasi benda-benda elektronik.
Aku menangis
karena lagi-lagi semua menceritakan tentang mimpi dan cita-cita. Tidak hanya
itu, sebab dibalik kesuksesan cita-cita seorang anak keluarga adalah lakon dibalik itu
semua. Bagaimanapun hasilnya dan perjuangannya, keluarga merupakan wadah dari
sekumpulan orang yang juga merasakan kebahagiaan dan betapa bangganya memiliki
anak yang sukses dan berhasil meraih mimpi dan cita-citanya.
Dari menonton
video tersebut, aku kembali mengingat masa kecilku bersama dengan ayah dan
ibuku. Aku yang gemar membantu ayah membereskan dan memperbaiki peralatan elektronik dan
mesin-mesin, baik mesin diesel dirumah maupun sepeda motor ayahku yang biasa
digunakan pergi pulang ke dan dari kantor yang saat itu sudah motor tua dan sangat ingin sekali diperhatikan karena kondisinya yang tidak lagi prima seperti motor-motor baru, sepeda motor laki-laki dengan tangki bensinnya yang berwarna kuning. Ibu yang
dengan telatennya menyiapkan hidangan baik gorengan maupun nasi goreng di
hari-harinya saat kami memperbaiki motor ayah di teras depan rumah. Untuk itu
aku selalu teringat akan sebuah lagu
“Kasih ibu kepada beta tak terhingga
sepanjang masa
Hanya memberi tak
harap kembali
Bagai
sang surya menyinari dunia”
Ayah, Ibu.
Maafkan aku
jika aku lupa dengan mimpi dan cita-citaku. Aku tidak pernah mempunyai banyak mimpi.
Sedikit yang aku ingat saat aku masih kecil, aku ditanya oleh seseorang saat
bermain-main di ruang tamu tentang mimpi dan cita-cita. Aku mengatakan
bahwasanya aku ingin pergi ke Jepang, sebuah negara yang sedari dulu terkenal
dengan teknologi dan kemajuan robotiknya.
Bahkan hingga
sekarangpun aku masih sangat menginginkan aku dapat pergi ke Jepang, entah dengan dan acara apa? Tidak banyak
seperti teman-temanku yang ingin ke Inggris. Sepertinya mereka telah jelas
sekali ingin mengapa, mereka ingin melanjutkan kuliah di salah satu Universitas
ternama di negara sana.
Ayah, Ibu.
Sudah merasa
bahagiakah kalian dengan usahaku? Seberapa besarkah keberhasilanku di hadapan
kalian? Banggakah kalian dengan apa yang telah aku perjuangkan selama ini?
Ayah, Ibu.
Aku tidak
tahu, apakah kesedihan kalian akan kalian tunjukkan dihadapanku. Aku merasa
bersalah jika aku hanya mengadukan kelelahanku saat aku mendapatkan tugas
kuliah. Padahal kalian tidak pernah sekalipun mengeluhkan kelelahan kalian
sepulang kerja dan melakukan tugas kantor. Bahkan semangat Ayah yang harus
bolak-balik Rumah – Pekanbaru –Pekanbaru – Rumah dengan durasi waktu yang tidak
singkat (4 jam sekali perjalanan, dan total hampir 10 jam untuk pergi – pulang).
Ayah, Ibu.
Aku tidak
ingin pengorbananku untuk menjauh dari keluarga berakhir dengan sia-sia. Aku akan
berhasil dan sukses membawa nama harum keluarga di mata dunia. Namun, entah
kapan aku bisa melakukannya. Ketika aku bertemu dan berbagi cerita dengan
teman-temanku di kampus, terkadang aku merasa menjadi orang yang tidak sepintar
dan sekritis pemikiran mereka. Disini, di kota ini aku bertemu dengan
orang-orang yang luar biasa hebat dan pintar. Dari situ terkadang aku merasa
menjadi orang yang paling kecil dan tidak mengerti apa-apa.
Ayah, Ibu.
Saat ini,
masih aku yang memilih untuk berpisah paling jauh dengan keluarga. Semua juga
kerana pilihanku sendiri untuk memilih di Universitas ini. Dibalik kisah Universitas
yang tidak pernah masuk sebagai daftar salah satu Universitas ketika kelas XII.
Ayah, Ibu.
Petualanganku
belum berhenti disini, aku masih memiliki banyak utang kepada kalian. Sekali lagi,
maafkan aku jika aku masih belum membuat kalian bangga. Kala itu aku sempat
membuat kalian sedih karena tidak diterimanya aku di salah satu Universitas
terbaik di Jogja. Padahal kalian berpesan agar aku tidak meninggalkan kota
Jogja. Namun, nyatanya Allah berkehendak lain.
Kebetulan saja
seorang teman di Jogja mengirimkan pesan dan menyertakan link Almamaternya di
jejaring sosial ditengah kegalauan dan ketidakceriaanku yang hampir putus asa
hanya karena masalah Universitas.
Untuk melakukan
tes seleksi masuk pun, aku harus diam-diam dari semua keluarga. Bukan apa-apa,
hanya saja aku takut akan membuat kekecewaan selanjutnya pada kalian. Dana
pendaftaran yang berasal dari uang logam hasil pengumpulan sejak kelas VIII, uang
yang disimpan di celengan buatan sendiri dari kaleng minuman bersoda (Sprit,
Fanta) dan kaleng bekas makanan kaleng (Astor Twister, permen Tango).
Terkumpul tidak
lebih dari Rp500.000.
Tak sempat
bersembunyi terlalu lama, saat aku menukarkan uang tersebut ke Bank, hapeku
dengan nada dering lagunya Simple Plan yang berjudul Jet Lag berdering dan
bernyanyi di tengah antrian teller. Ibu seperti biasanya menanyakan aku sedang
berada dimana. Sebab tak kuasa untuk lama menyimpan sebuah rahasia, aku pun
mengatakan yang sesungguhnya bahwa aku sedang di Bank untuk menukarkan uang
logam dengan uang kertas yang akan aku gunakan sebagai uang pendaftaran tes
seleksi masuk di Universitas (ku yang sekarang).
Ibu.
Mendengar suaramu
saat itu saja aku seperti menjadi anak yang paling berdosa karena tidak
mengindahkan pesanmu agar aku tetap melanjutkan studi di Jogja. Pertimbangan bahwa
kami tidak memiliki sanak saudara di Jawa Timur. Itu yang membuat Ibu dan Ayah
merasa takut akan nasib kami di sini kan?
![]() |
| Dinol dan Dian in action :D |
Dengan cara
seperti itupun, aku sempat merasakan apa yang kalian khawatirkan. Aku bersama
dengan kedua kakakku harus merasakan pontang-panting di jalan karena kondisi
yang membentuk kita untuk dapat bertahan dengan system “Bolang”, seperti yang
dilakukan oleh para turis dari luar negeri, kami bertiga dengan tas ranselnya
yang tidak besar namun berat dibuatnya berjalan hingga berkilo-kilo meter untuk
mencari rumah singgah demi bermalam satu malam sebelum esoknya melakukan tes
ujian tertulis di kampus tersebut.
![]() |
| Travelo sista kekeke |
![]() |
| We are OKE! |
![]() |
| Best partner |
![]() |
| Mueehehe |
![]() |
| Don't cry!!! Please kikiki |
Tak cukup
waktu untuk belajar dan mengulang pelajaran. Untuk istirahat pun kami merasa
kekurangan waktu. Kenapa tidak? Saat itu aku dan kedua kakakku beranjak
meninggalkan Kota Jogja untuk ke sini (Malang) pada pukul 23.15 wib selanjutnya
kami baru tiba di Malang pada pagi hari. Itupun kami harus merasakan tersesat
karena tidak menemukan rumah seseorang yang sebelumnya telah kami minta izin
untuk bermalam.
Hanya beristirahat
sebentar dan tidak akan melakukan kekeliruan. Kami beranjak untuk mencari dan
melihat ruang tes esok hari supaya esok tidak kebingungan dan sukses untuk
gagal tidak mengikuti serangkaian tes seleksi masuk perguruan tinggi tersebut.
Esok di pagi harinya, saat semua penghuni kosan belum semua terbangun, kami
telah sukses untuk bersiap-siap mengikuti tes di ruangan di kampus yang
sebelumnya telah kami cari. Dengan berbekal doa dan keyakinan, aku dan kedua
kakakku dengan gagah berani melejit ke kampus tersebut dengan berjalan kaki
(Rute: Komplek perumahan Griya Shanta – Kampus Universitas Brawijaya Malang).
Seusai seleksi pun, kami harus bertolak menginggalkan Kota Malang dengan berniat
kembali ke Kota sebelumnya, Jogja.
Namun,
kehidupan “Bolang” baru benar-benar di mulai. Aku beserta kedua kakakku sukses
tidak mendapatkan tiket kereta. Hal itu membuat kami harus mengambil jalan lain
agar kami dapat beristirahat meskipun sedikit nyaman. Kakak kedua-ku kebetulan
memiliki sahabat di Surabaya, dia pun akhirnya memutuskan untuk kita mampir dan
beristirahat di sama. Sebelumnya pun kami sempat akan kena tipu oleh seorang bapak
yang ingin meminjam tiket kita dengan alasan ingin menjemput ibunya di luar
(alih-alih memberikan jaminan sebuah telepon genggam dan KTP). Entah kenapa
pula, tiket yang dibelinya salah tujuan. Stasiun yang seharusnya dituju adalah
stasiun Gubeng Kota Surabaya namun yang tertera di kertas tiket pesanannya
adalah stasiun Turi, Stasiun pasar Turi. Di dalam kereta – setelah kami
menyadari hal tersebut kami berencana untuk tidur dengan “sok pulas” atau
bahkan menangis apabila bagian pemeriksaan kereta meminta kami untuk turun di
stasuin pemberhentian berikutnya pasca tiket kami diperiksa olehnya. Bagaimana kami
tidak berencana untuk melakukan hal demikian? Karena saat itu waktu telah larut
malam, dan kami hanyalah seorang bocah ingusan yang baru saja keluar dengan
liar di kehidupan yang ternyata butuh penghayatan. Muueeheehee
![]() |
| Kaki yang selalu melangkah, OKE |
Namun,
ternyata hal yang paling kita takutkan tidak terjadi. Kami tetap sampai di
stasiun Gubeng Kota Surabaya hampir tengah malam. Alhamdulillah, kami bertiga
di jemput oleh Ayah teman kakakku. Sesampainya di rumah keluarga tersebut, kami
bebersih diri dengan air secukupnya, ngobrol sebentar sekadar basa-basi dan tidur karena paginya kami harus persiapan untuk
makan sahur perdana sebelum jam 7 paginya kami harus kembali untuk ke stasiun
dan meneruskan perjalanan ke Jogjakarta.
Ayah, Ibu.
Kereta Api
adalah sahabatku selama ini, salah satu kendaraan yang menolongku untuk
melakukan ekspedisi one day trip demi
melanjutkan studi dan mengejar juga meraih mimpi dan cita-cita. Kegemaranku menulis
juga belum lama, untuk itu aku berusaha untuk kembali mengingat perjalanan
hidupku ini agar jika sewaktu-waktu telah terjadi sesuatu kepadaku. Aku bisa
mengingat dan mengenangnya kembali. Bahwasanya aku terlahir dengan pribadi yang
tidak mudah untuk menyerah.
Aku menyadari
akan keterbatasanku, ketertinggalanku sangat banyak jika aku membandingkan
mimpi dan cita-citaku dengan beberapa teman-temanku saat ini di Kampus. Aku tidak
ingin menyalib mereka dengan segala mimpi-mimpi indahnya, aku hanya ingin
berjalan berdampingan dengan mereka di rel perjalanan hidupku sendiri.
Beruntung aku
dipertemukan dengan beberapa teman yang bercita-cita tinggi. Seperti yang ingin
melanjutkan studi S2 nya di Oxford, Adelaide, Waseda dan masih banyak lagi. Semoga
dengan perjalanan dan kerja keras masing-masing kita, semua mimpi dan cita-cita
akan segera terwujudkan dan selalu diberikan olehNya yang terbaik bagi semua. Aamiin
I LOVE YOU
AYAH, I LOVE YOU IBU







0 komentar:
Posting Komentar