Malang, 08 Oktober 2013
11.00 pm
At Room 21
Bayangan saat mengingat sosok ayah adalah kekuatan, ketegaran,
ketampanan, pelindung, dan pengayom.
Ayah, seseorang yang begitu kuat dan perkasa juga hebat, hebat
kondisi fisik, hebat pemikiran, sayang, juga patut untuk di contoh.
Ayah, dengan segala kekuatan dan semangat kerja yang tinggi demi
sebuah keluarga, berangkat meninggalkan rumah di pagi hari dan masih tetap
bekerja ketika sudah sampai di rumah saat sudah petang dengan menggunakan sisa
tenaga yang tinggal ¼ mungkin saja.
Aku selalu ingin menangis saat aku membayangkan perjuangan
ayahku, bagiku ayah memiliki pribadi yang sangat bertanggung jawab dengan
keluarga.
Dahulu, ketika aku masih kecil, aku sering sekali melihat dan
menemui ayah marah. Namun, sekarang ketika aku sudah sedikit besar, hampir tidak
pernah aku menjumpai ayah marah. Malahan, ayah begitu sayang dengan kami semua.
Tak terbayang jika ayahku menerima gaji bulanan – dari dulu hingga kini – ibuku
tidak pernah sedikitpun mengetahui jumlah nominal uang yang ayah terima –
sedikitpun ibu tidak pernah melihat. Ibuku selalu berkata pada kami, bahwa gaji
kerja ayah langsung dikirimkan kepada anak-anaknya yang masih sekolah dan masih
membutuhkan banyak biaya yang tidak lagi sedikit. Masih mending jika anak yang
sekolah hanya 1 atau 2 orang, paling tidak ayah tidak perlu mentransfer semua
gajinya kesini. Tapi, apalah dikata jika ke-4 anaknya masih membutuhkan biaya
hidup darinya.
Ayah tidak pernah sedikitpun menuntutku untuk menjadi sosok
manusia yang ideal, iya, memang semua manusia di dunia tidak akan pernah ada
yang ideal apalagi sempurna.
Walaupun begitu, ayah selalu berpesan agar kami menjaga hubungan
baik dengan semua orang, jangan pernah sampai melukai apalagi menyakiti hati
seseorang sampai menimbulkan permusuhan.
Bagiku, ayah adalah orang yang ideal. Ayah selalu mmenuhi semua
keperluan kami sebagai anak dan semua yang dilakukan itu tidak pernah
dikeluhkan pada kami.
Maskipun begitu, kadang aku ingin menanyakan dan sangat ingin
tahu apakah jika semua gaji ayah ditransfer ke kami, ayah masih tetap punya
uang? Dan setiap kali aku bertanya, ayah selalu bilang “buat apa tahu gaji yang
ayah bawa pulang, yang jelas kamu harus rajin belajar”.
Hanya simple permintaannya, tapi sebagai manusia, hal sesimpel
itu kadang malah sedikit sulit untuk dikerjakan. Sebagai anak, aku kadang
merasa memiliki beban yang berat untuk melakukan itu, sehingga tak jarang jika
kadang aku malah lupa dengan keinginannya. Begitu aku rada malas, terhanyut
dalam kesenangan juga lupa dengan permohonannya – ketika aku sadar akan
pengorbanan dan kerja keras ayah – seketika itu juga aku langsung menangis.
Tak terbayang bagaimana rasanya, menangis dengan tetesan air
mata yang begitu deras juga menyesakkan dada saat bernafas, membayangkan ayah
pergi dari rumahmenuju kantor pukul 06.00 am dan baru tiba dirumah pukul 05.00
pm.
Penghidupan kami memang dari Sumatra, ayah bekerja sebagai PNS
di kantor perkebunan, sedangkan ibu sebagai PNS di SDN.
Ayah dan ibu mengikuti program transmigrasi dari pulau jawa,
ayah terlahir di Magelang, Jawa Tengah dan ibu asli Yogyakarta.
Alhamdulillah kami dapat dihidupkan dari hasil pekerjaan ayah
dan ibu dan juga ada beberapa hasil perkebunan yang ayah dan ibu miliki di sana.
Setiap kali aku pulang ke Riau, Sumatra,paling sedikit 1 kali
aku meyempatkan membantu ayah dan ibu untuk mengurusi kebun, seperti memupuk
kebun kelapa sawit atau membantu memanen hasil sadapan pohon karet, atau bahkan
ikut membantu membersihkan rumput ilalang yang mengganggu pertumbuhan tanaman
pohon kelapa sawit dan pohon karet.
![]() |
| Perdananya nganterin ke Malang |
| Ayah, Ibu, Adek, Kakak, datang di acara pelepasan sekolah |
Tak jarang, ketika malam sehabis adzan isya aku menjumpai ayah
tidur lebih awal. Aku tahu, pasti ayah cape’ dengan segala rutinitas yang
dijalaninya. Aku merasa pilu dan sedih jika harus mendapati ayah sakit, aku
selalu berdoa agar ayah diberi kesehatan dan keselamatan dan umur panjang yang
bermanfaat oleh Allah. Aamiin……
Bagaimanapun juga, darah ayah mengalir di dalam tubuhku, jadi
aku sedih jika ayah sakit. Aku sayang ayah, sayang ibu, juga semu keluargaku.
Meskipun disaat kelahiranku, ayah tidak berada disisi ibu dan
menyambut kelahiranku, aku tetap sayang dan berterimakasih pada ayah karena
telah membesarkanku dan mendidikku dengan kemandirian dan pendidikan agama yang
abaik.
Saat aku terlahir di dunia, ayah memang berada di Medan, Sumatra
utara. Meskipun dulu aku belum tahu apa-apa, namun ibu dan saudara-saudarakulah
yang menceritakannya padaku. Aku maklumi karena pada saat ayah pulang – dari kabar
yang aku terima – bahwa ayah sedang cuti kuliah dan lebih memilih untuk
menungguku lahir. Tapi, apa dikata? Allah tidak mengizinkanku lahir di muka
bumi ini saat ayah di rumah. Alhasil, saat ayah pergi lagi ke Medan, ayah masih
dikaruniai 2 orang anak. Tapi, begitu ayah tiba di Medan – 2 atau berapa
harinya aku lupa – barulah aku lahir. Ayah – bagaimana perasaanmu saat itu? Bagaimana
atau seperti apakah aku tidak tahu. Kau tahu ayah, ternyata ankmu ini terlahir
sebagai anak kembar yang sangat lucu.
Berita seperti dan macam apa aku juga tidak tahu, mungkin surat
atau sudah ada layanan telepon yang mengabarkan kelahiranku ini. Kini ayah
telah memiliki 4 orang anak dan semuanya adalah perempuan.
Aku yang terlahir sebagai sungsang kini sudah menjadi mahasiswa,
dulu – beberapa cerita yang pernah ku dapat – juga menceritakan bahwa ayah baru
bisa bertemu dengan anak kembarnya saat usia kami sudah memasuki lebih dari 1
bulan, itupun ayah tidak mengenal siapa kami, kecuali setelah ditunjukkan.
Ayah, jujur sekali kalau aku merasa kurang nyaman dan tenang
kalau ayah tidak berada di rumah, teringat saat cuaca kurang bersahabat
ditambah dengab petir yang besar dan hujan yang deras. Kami merasa bahwa
pelindung kami sedang tidak berada di rumah, dan jika terjadi apa-apa siapa
yang nanti akan menolong kami?.
Kami lemah, orang yang kuat sedang bekerja. Rasa takut dan hanya
rasa takut yang menyelimuti hati kami. Ditambah dengan suasana pedesaan dan
jarak rumah yang berjauhan dari rumah tetangga, siapa yang akan mendengar dan
tahu jika saat itu terjadi hal yang tidak kami inginkan?.
Mempersiapkan peralatan tajam, seperti linggis, parang, penokok,
dan pisau di tempat yang mudah terjangkau oleh kami yang ibu lakukan saat itu. Alhamdulillah
dari ketakutan itu tidak terjadi apa-apa.
Ayah, kami berharap Allah selalu memberikan perlindungan
kepadamu dan juga keluarga di rumah, jaga kesehatan ayah, dan tetaplah menjadi
imam bagi kami semua, kami mendoakan agar Allah selalu member kelancaran dalam
memperoleh rezeki, kesehatan, umur yang bermanfaat dan tetap berada pada jalan
yang diRidhoi oleh-Nya. Aamiin…
Kami berjanji pada diri kami, bahwa kami bisa membahagiakanmudan
juga seluruh keluarga tercinta di rumah, semoga Allah meRiodhoi jalan kami
menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Aamminn….


0 komentar:
Posting Komentar