Rabu, 09 Oktober 2013

Ayah


Malang, 08 Oktober 2013
11.00 pm
At Room 21

Bayangan saat mengingat sosok ayah adalah kekuatan, ketegaran, ketampanan, pelindung, dan pengayom.
Ayah, seseorang yang begitu kuat dan perkasa juga hebat, hebat kondisi fisik, hebat pemikiran, sayang, juga patut untuk di contoh.

Ayah, dengan segala kekuatan dan semangat kerja yang tinggi demi sebuah keluarga, berangkat meninggalkan rumah di pagi hari dan masih tetap bekerja ketika sudah sampai di rumah saat sudah petang dengan menggunakan sisa tenaga yang tinggal ¼ mungkin saja.


Aku selalu ingin menangis saat aku membayangkan perjuangan ayahku, bagiku ayah memiliki pribadi yang sangat bertanggung jawab dengan keluarga.
Dahulu, ketika aku masih kecil, aku sering sekali melihat dan menemui ayah marah. Namun, sekarang ketika aku sudah sedikit besar, hampir tidak pernah aku menjumpai ayah marah. Malahan, ayah begitu sayang dengan kami semua. Tak terbayang jika ayahku menerima gaji bulanan – dari dulu hingga kini – ibuku tidak pernah sedikitpun mengetahui jumlah nominal uang yang ayah terima – sedikitpun ibu tidak pernah melihat. Ibuku selalu berkata pada kami, bahwa gaji kerja ayah langsung dikirimkan kepada anak-anaknya yang masih sekolah dan masih membutuhkan banyak biaya yang tidak lagi sedikit. Masih mending jika anak yang sekolah hanya 1 atau 2 orang, paling tidak ayah tidak perlu mentransfer semua gajinya kesini. Tapi, apalah dikata jika ke-4 anaknya masih membutuhkan biaya hidup darinya.


Ayah tidak pernah sedikitpun menuntutku untuk menjadi sosok manusia yang ideal, iya, memang semua manusia di dunia tidak akan pernah ada yang ideal apalagi sempurna.
Walaupun begitu, ayah selalu berpesan agar kami menjaga hubungan baik dengan semua orang, jangan pernah sampai melukai apalagi menyakiti hati seseorang sampai menimbulkan permusuhan.

Bagiku, ayah adalah orang yang ideal. Ayah selalu mmenuhi semua keperluan kami sebagai anak dan semua yang dilakukan itu tidak pernah dikeluhkan pada kami.
Maskipun begitu, kadang aku ingin menanyakan dan sangat ingin tahu apakah jika semua gaji ayah ditransfer ke kami, ayah masih tetap punya uang? Dan setiap kali aku bertanya, ayah selalu bilang “buat apa tahu gaji yang ayah bawa pulang, yang jelas kamu harus rajin belajar”.

Hanya simple permintaannya, tapi sebagai manusia, hal sesimpel itu kadang malah sedikit sulit untuk dikerjakan. Sebagai anak, aku kadang merasa memiliki beban yang berat untuk melakukan itu, sehingga tak jarang jika kadang aku malah lupa dengan keinginannya. Begitu aku rada malas, terhanyut dalam kesenangan juga lupa dengan permohonannya – ketika aku sadar akan pengorbanan dan kerja keras ayah – seketika itu juga aku langsung menangis.


Tak terbayang bagaimana rasanya, menangis dengan tetesan air mata yang begitu deras juga menyesakkan dada saat bernafas, membayangkan ayah pergi dari rumahmenuju kantor pukul 06.00 am dan baru tiba dirumah pukul 05.00 pm.
Penghidupan kami memang dari Sumatra, ayah bekerja sebagai PNS di kantor perkebunan, sedangkan ibu sebagai PNS di SDN.

Ayah dan ibu mengikuti program transmigrasi dari pulau jawa, ayah terlahir di Magelang, Jawa Tengah dan ibu asli Yogyakarta.

Alhamdulillah kami dapat dihidupkan dari hasil pekerjaan ayah dan ibu dan juga ada beberapa hasil perkebunan yang ayah dan ibu miliki di sana.

Setiap kali aku pulang ke Riau, Sumatra,paling sedikit 1 kali aku meyempatkan membantu ayah dan ibu untuk mengurusi kebun, seperti memupuk kebun kelapa sawit atau membantu memanen hasil sadapan pohon karet, atau bahkan ikut membantu membersihkan rumput ilalang yang mengganggu pertumbuhan tanaman pohon kelapa sawit dan pohon karet.
 
Ayah, liburaann

Perdananya nganterin ke Malang

Ayah, Ibu, Adek, Kakak, datang di acara pelepasan sekolah

Tak jarang, ketika malam sehabis adzan isya aku menjumpai ayah tidur lebih awal. Aku tahu, pasti ayah cape’ dengan segala rutinitas yang dijalaninya. Aku merasa pilu dan sedih jika harus mendapati ayah sakit, aku selalu berdoa agar ayah diberi kesehatan dan keselamatan dan umur panjang yang bermanfaat oleh Allah. Aamiin……

Bagaimanapun juga, darah ayah mengalir di dalam tubuhku, jadi aku sedih jika ayah sakit. Aku sayang ayah, sayang ibu, juga semu keluargaku.

Meskipun disaat kelahiranku, ayah tidak berada disisi ibu dan menyambut kelahiranku, aku tetap sayang dan berterimakasih pada ayah karena telah membesarkanku dan mendidikku dengan kemandirian dan pendidikan agama yang abaik.

Saat aku terlahir di dunia, ayah memang berada di Medan, Sumatra utara. Meskipun dulu aku belum tahu apa-apa, namun ibu dan saudara-saudarakulah yang menceritakannya padaku. Aku maklumi karena pada saat ayah pulang – dari kabar yang aku terima – bahwa ayah sedang cuti kuliah dan lebih memilih untuk menungguku lahir. Tapi, apa dikata? Allah tidak mengizinkanku lahir di muka bumi ini saat ayah di rumah. Alhasil, saat ayah pergi lagi ke Medan, ayah masih dikaruniai 2 orang anak. Tapi, begitu ayah tiba di Medan – 2 atau berapa harinya aku lupa – barulah aku lahir. Ayah – bagaimana perasaanmu saat itu? Bagaimana atau seperti apakah aku tidak tahu. Kau tahu ayah, ternyata ankmu ini terlahir sebagai anak kembar yang sangat lucu.

Berita seperti dan macam apa aku juga tidak tahu, mungkin surat atau sudah ada layanan telepon yang mengabarkan kelahiranku ini. Kini ayah telah memiliki 4 orang anak dan semuanya adalah perempuan.

Aku yang terlahir sebagai sungsang kini sudah menjadi mahasiswa, dulu – beberapa cerita yang pernah ku dapat – juga menceritakan bahwa ayah baru bisa bertemu dengan anak kembarnya saat usia kami sudah memasuki lebih dari 1 bulan, itupun ayah tidak mengenal siapa kami, kecuali setelah ditunjukkan.

Ayah, jujur sekali kalau aku merasa kurang nyaman dan tenang kalau ayah tidak berada di rumah, teringat saat cuaca kurang bersahabat ditambah dengab petir yang besar dan hujan yang deras. Kami merasa bahwa pelindung kami sedang tidak berada di rumah, dan jika terjadi apa-apa siapa yang nanti akan menolong kami?.

Kami lemah, orang yang kuat sedang bekerja. Rasa takut dan hanya rasa takut yang menyelimuti hati kami. Ditambah dengan suasana pedesaan dan jarak rumah yang berjauhan dari rumah tetangga, siapa yang akan mendengar dan tahu jika saat itu terjadi hal yang tidak kami inginkan?.

Mempersiapkan peralatan tajam, seperti linggis, parang, penokok, dan pisau di tempat yang mudah terjangkau oleh kami yang ibu lakukan saat itu. Alhamdulillah dari ketakutan itu tidak terjadi apa-apa.

Ayah, kami berharap Allah selalu memberikan perlindungan kepadamu dan juga keluarga di rumah, jaga kesehatan ayah, dan tetaplah menjadi imam bagi kami semua, kami mendoakan agar Allah selalu member kelancaran dalam memperoleh rezeki, kesehatan, umur yang bermanfaat dan tetap berada pada jalan yang diRidhoi oleh-Nya. Aamiin…

Kami berjanji pada diri kami, bahwa kami bisa membahagiakanmudan juga seluruh keluarga tercinta di rumah, semoga Allah meRiodhoi jalan kami menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Aamminn….

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar