Senin,
22 September 2014.
Pada
pagi yang cerah dipersimpangan jalan disalah satu sudut desa,
berbondong-bondong kawanan burung dengan kicauan suaranya yang sangat indah. Tidak
begitu bising sehingga penikmat jalanan pun tidak dibuatnya begitu pusing. Lalu
lalang masyarakat pedesaan membuat keakraban semakin hidup akibat beberapa
obrolan yang mereka lakukan, mungkin seputar burung mungkin bukan.
Teriakan
seorang anak kecil pagi itu membuat focus pembicaraan beberapa masyarakat
teralihkan. Seorang anak kecil berumuran sekolah dasar memanggil kakaknya yang sedikit jauh
meninggalkannya didepan dengan mengenakan seragam Biru putih menunggang sepeda.
“Kakaaak
!!! jangan cepat-cepat, mari kita berangkat sama-sama, kakak lupa apa kata ibu
dan ayah tadi pagi? Kakak harus tetap menjaga aku sampai aku tiba di gerbang
sekolah kan”.
“iya,
kakak ingat. Makanya cepatlah sedikit! Kakak sangat buru-buru karena kakak
masih memiliki beberapa tugas yang belum kakak kerjakan. Kamu tidak suka kan
dik, kalau kakak kena marah?
Kedua
adik kakak itu saling memberikan pengertian masing-masing, agar masyarakat yang
menyaksikan mereka ribut pagi-pagi tidak mengerumininya hingga membuat suasana pagi
yang cerah menjadi gerah.
“aahh,
adik tahu. PR matematika kakak semalam itu, belum selesai kakak kerjakan yaaa? Matematika
itu gampang kak. Besok-besok lagi, kalau kakak punya PR matematika dari ibu guru,
kakak harus panggil adik yaa? Kaya’ kakak tidak tahu saja, adik mu satu ini
sangat pandai soal hitung menghitung. Aku juara tiga tingkat kabupaten lho
tahun ini. Tahun depan, aku bertekad akan juara sampai tingkat nasional! Aku berjanji
pada dunia dan seluruh hatiku!.
Kebahagiaan
kedua anak itu membuat hati warga desa sangat lega. Bahkan banyak yang
memanggil mereka dan memintanya hati-hati di jalan karena akan banyak sekali
kendaraan-kendaraan besar yang lalu lalang dijalanan sepanjang jalan menuju sekolah
mereka di dekat kota.
“hey,
Acil! Diva! Hati-hati kalian berangkat sekolah ya? Pesan atuk, baik-baiklah
kalian belajar disana. Tak banyak anak yang bisa menikmati sekolah macam kalian
ini. Nasib baik kalian, tak macam atuk dulu.” Perkataan dan pesan datuk itupun
mengundang simpatisan sekaligus sedikit gelak tawa orang-orang yang didekatnya.
“Sekolah
SD pun atuk tak tamat. Teruslah kalian ukir prestasi, mau itu prestasi
olahraga, pendidikan, bahkan organisasi pun kalian harus punya. Tak masalah
seberapa besar pengorbanan kalian di dalamnya. Tak usah pula kalian selalu
ingin dipandan yang paling baik diantara kawan-kawan kalian. Cukuplah kalian
melakukan yang terbaik untuk hasil yang terbaik. Cukuplah sudah, sembari baca
bismillah saja dan usaha yang paling baik. Untuk mengharapkan balasan dan
pujian pun tak bagus. Tak ikhlas nanti”.
“baiklan
atok Apoh!” teriak keduanya dengan semangat dan optimism yang selalu mereka
bawa kemana pun mereka pergi.
“kami
berangkat dulu atok, Assalamualaikum”, kata mereka.
“waalaikumussalam”,
jawab atok dan beberapa masyarakat yang mendengar salam mereka.
Tanpa
mereka sadari, keributan, obrolan, dan pesan atok tadi disaksikan oleh ibunya
yang ternyata dari tadi berdiri di depan pintu rumah untuk melihat apa yang
sesungguhnya membuat adiknya teriak begitu keras, ia pantang melerai mereka
karena ia paham keduanya dapat saling mengerti dan bisa menyelesaikan masalah
mereka berdua.

0 komentar:
Posting Komentar